|

Saat ini musim penerimaan murid baru di sekolah-sekolah
TK-SD sudah berlangsung. Para ortu rela mengantri & merogoh
kocek dalam-dalam agar anaknya diterima di sekolah-sekolah yang
terkenal dan / atau favorit. Kalau diamati dalam beberapa tahun
terakhir ini biaya pendidikan TK-SD meroket cukup tajam tanpa ada
kejelasan yang pasti, sebenarnya mengapa sekolah sekarang menjadi
begitu mahal? Namun dalam kondisi seperti itupun ortu tetap saja
berusaha keras agar anaknya dapat diterima di sekolah pilihannya.
Kalau dilihat bangunan fisik sekolah-sekolah
tersebut memang (menjadi) megah, lahannya luas & berlomba melengkapi
berbagai fasilitasnya. Mungkin para ortu menilai hal-hal itu sebagai
salah satu tanda sekolah pilihannya bonafid. Kalau dipikir
lebih dalam, benarkah begitu? Apakah dengan gedung yang mentereng&
lengkap fasilitasnya berarti mutu pendidikan di sekolah tersebut
juga sangat baik?
Ada satu sekolah yang lahan bermainnya sangat
bagus kelihatannya, permainan lengkap dengan jembatan & perosotan
yang kokoh karena terbuat dari besi & menarik dengan warna-warninya.
Tapi mungkin di luar dugaan pembuatnya (?) saat digunakan jembatan
gantung tersebut menimbulkan suara yang sangat gaduh akibat saling
beradu besi. Bagaimana jalan keluarnya? Kalau diganti mungkin sayang
karena biaya pembuatannya pastilah mahal.. Jadi akhirnya dibuat
pagar di pembatas area tersebut dan pintunya dikunci (!). Hanya
saat tertentu saja gembok tersebut dibuka. Akhirnya jadilah area
tersebut taman bermain anak sekolah yang sepi...
Masih di sekolah tersebut, terlihat ada mobil-mobilan
Little Tikes diparkir di area PG di sudut koridor sekolah.
Jumlahnya yang sedikit tentunya membutuhkan daya juang bagi anak-anak
yang ingin menggunakannya. Permainan-permainan yang berharga mahal
itu (yang pastinya turut mendongkrak mahalnya biaya sekolah) sebenarnya
apa manfaatnya bagi anak-anak selain tampilannya yang terkesan modern
& mahal?
Saya jadi teringat ketika sepupu Benita berkunjung ke Rumah Belajar
Smipa. Setelah kunjungan singkat ke ruang-ruang kelas dan sekelilingnya,
sepupu yang berusia 5tahun ini (tapi sudah duduk di TK-B juga,di
Jakarta) berkomentar "..sekolah Benita kecil ya..". Benita
kelihatan agak bingung dengan komentar itu. Saya bantu menjawab
"..ya sekolah Benita memang belum selesai..masih lagi dibangun.."
Kemudian Benita menambahkan dengan ceria "..tapi sekolahku
asik lho..!". Kalau kita amati setiap hari, memang di tiap
sudut sekolah selalu dapat menjadi tempat yang mengasyikkan bagi
anak-anak Smipa untuk bermain. Mereka tidak bergantung pada alat
permainan apapun, karena mereka dapat menciptakan permainan sendiri.
Segala bebatuan, dedaunan bisa jadi obyek yang menarik, belum lagi
acara berburu serangga..Sekedar bermain ucing sumput atau bermain
kartu di bawah pohon di tengah area parkir..Semuanya bikin saya
ngiri pengen jadi anak-anak lagi seperti mereka, bermain tanpa beban..
Kembali ke sekolah-sekolah terkenal tadi,
kegiatan belajarnya selalu diawali dengan baris berbaris sebelum
masuk kelas, baik di pagi hari maupun setiap habis istirahat. Dari
jaman saya SD dulu hingga kakaknya Benita sudah kelas V SD, tradisi
ini masih dipertahankan, katanya agar anak berlatih disiplin. Tapi
benarkah anak jadi disiplin karenanya? Pada kenyataannya tradisi
ini lebih banyak menimbulkan masalah daripada tercapainya kedisiplinan
anak. Gurupun sering mengeluh waktu belajar sering hilang sampai
10 menit karena anak-anak berbaris tak kunjung rapi. Bahkan anak
saya pernah dihukum 1 kelas berdiri dalam barisan di luar kelas
selama 5 (lima!) jam pelajaran, karena ada beberapa anak yang tak
juga berdiri diam &tegak dalam barisan! Sungguh saya gak abis
ngerti untuk apa baris-berbaris ini tetap dipertahankan. Anak yang
dinilai guru disiplin disuruh memimpin barisan. Hasilnya tumbuh
anak-anak yang senang mencari pujian dari guru, mereka giat mencari
kesalahan temannya untuk kemudian tak segan mengadukannya kepada
guru. Nilai moral apakah yang tertanam pada anak-anak tersebut?
Kalau di Smipa, selintas mungkin terkesan
sekolah ini kok santai banget ya.. Gak ada acara baris berbaris..
Waktu upacara 17 agustusan aja anak-anak berjejer seadanya berbaur
dengan sebagian ortu, toh penghormatan pada bendera sambil menyanyikan
lagu Indonesia Raya sanggup menyusupkan rasa haru dalam hati. Ada
baju seragam, tapi tidak menjadikan anak takut kalau sampai salah
seragam (kakaknya Benita pernah batal sekolah karena sesampainya
di sekolah disadarinya telah salah pakai seragam, takut dimarahi
gurunya!). Kalau soal sepatu, bebaas banget..mau pakai sandal juga
boleh..Mamanya sepupu Benita tadi sampai melotot keheranan waktu
saya memilih sepatu untuk Benita sekolah, karena sepatunya sepatu
tali santai warna orange terang berbunga-bunga pula.. maklum, di
sekolah anaknya sepatu wajib berwarna hitam yang 100% hitam tanpa
aplikasi apapun.
Melihat hal tersebut apakah berarti anak-anak
Smipa tidak mengenal disiplin? Jangan salah, justru dalam diri mereka
tumbuh kedisiplinan yang tinggi. Dalam bermain mereka (saling belajar)
tau kapan harus bergantian, saling memberi semangat & memberi
kesempatan pada temannya. Sebelum makan Benita bisa dibilang selalu
ingat cuci tangan dulu (meskipun kalau makan di luar) tanpa diingatkan
lagi, lalu otomatis berdoa sebelum makan..dan mencari tempat sampah
kalau habis makan snack, dsb. Menurut saya kedisiplinan bukanlah
penyeragaman asesori sekolah, tapi tumbuhnya kesadaran dalam diri
anak untuk menjaga perilakunya sebagai hasil kebiasaan yang baik
yang terlatih dari hari ke harinya.
Saat di dalam kelas, di sekolah-sekolah pada
umumnya guru berdiri di kelas sebagai center point. Semua
anak (harus) duduk manis mendengarkan dan / atau mengerjakan instruksi
guru. Kalau ada yang bergerak atau bersuara di luar pakem yang berlaku
pastilah menuai teguran hingga hukuman dari sang guru. Posisi anak
selalu sebagai obyek yang harus menerima pelajaran yang disampaikan.
Anak harus sanggup menjaga sikap patuhnya dari pagi hingga siang
hari, baru dibilang anak manis & pinter..
Kalau di Smipa mungkin kadang terlintas keraguan,
ini anak-anak belajar atau main-main aja sih..? Kok (suka) pada
ketawa-ketawa aja ya, kapan seriusnya? Kok mereka duduk (kadang)
semaunya, ada yang beraktivitas di atas meja, ada yang di lantai,
ada yang mojok.. Kalau gurunya menjelaskan pada ngariung (berkumpul
di sekitar guru,red) mendengarkan dari dekat.. Kadang butuh usaha
untuk menemukan guru di antara mereka, karena begitu campur baur
dengan anak-anak dalam beraktivitas. Relasi guru - murid tidak sejauh
kursi anak ke meja guru sehingga untuk mendapat perhatian guru anak
harus tunjuk jari, tapi hanya sebatas rengkuhan panjangnya tangan
anak..karena guru dapat dengan mudah disentuh & disapa dengan
nama Kakak.. Dengan demikian guru lebih bersikap sebagai pembimbing,
fasilitator & motivator bagi anak didiknya. Anak-anak selalu
menjadi subyek / pelaku utama dari proses pembelajaran yang berlangsung.
Di sekolah-sekolah pada umumnya pelajaran
berlangsung di dalam kelas. Suasana hening & tertib diharapkan
terjaga sepanjang jam pembelajaran berlangsung. Buat saya, kalau
berjalan di koridor sekolah saat jam belajar kadang suasananya mengingatkan
saya pada suasana koridor rumah-sakit yang lengang & mencekam
(apalagi kalau ada guru yang sedang marah di kelas,ih serem..).
Suasana tertib tersebut (katanya) bertujuan agar anak-anak dapat
berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Namun benarkah begitu?
Di Smipa tidak ada meja kursi yang berjejer
rapi dan suasana belajar anak kadang terkesan sesukanya. Namun di
dalamnya terdapat suatu alur yang harmonis. Karena dunia anak
adalah dunia bermain, dengan bermain anak belajar banyak hal.
Dunia anak adalah dunia yang dinamis. Anak-anak peka terhadap rangsangan
(perilaku teman di dekatnya / hal-hal yang terjadi di sekitarnya
akan dengan mudah menarik perhatiannya). Rentang konsentrasi anakpun
memang masih dalam hitungan beberapa menit hingga beberapa puluh
menit sesuai usia anak. Tidaklah mengherankan jika anak yang belajar
dari pagi sampai siang hari dalam suasana yang kaku & monoton
akan menganggap sekolah sebagai beban yang melelahkan & membosankan
daripada mendapatkan manfaatnya dari sekolah. Bagi anak-anak ini
saat yang menyenangkan di sekolah adalah saat istirahat, di mana
anak dapat bergerak bebas dan dapat mengenal temannya.
Di banyak sekolah seperti di TK sepupu Benita
tadi, pelajaran baca tulis menjadi mata pelajaran yang utama. Pada
akhir semester pertama di TK B anak sudah harus menguasai baca tulis,
agar mereka dapat memenuhi persyaratan test masuk SD di sekolah
tersebut. Jadi anak-anak yang belum lancar baca tulis akan mendapat
pelajaran tambahan sepulang sekolah (ini di TK lho..), termasuk
sepupu Benita tadi. Hasilnya sekarang dia sudah dapat lancar baca
tulis, meskipun usianya lebih muda hampir 1 tahun dari Benita.
Hal tersebut tidak membuat saya kuatir ataupun berkecil hati, meskipun
saat ini Benita masih dalam proses belajar baca tulis. Progresnya
berkembang secara alamiah, dimulai dari mengenal huruf, kemudian
hafal bentuk & penulisan nama teman-temannya di TK A dulu hingga
sekarang mampu membaca & menulis kata dengan suku kata yang
terdiri dari dua huruf.
Menurut saya yang terpenting bukanlah pada
usia berapa seorang anak mampu menguasai baca tulis, tapi apakah
dengan kemampuannya tersebut dapat memberikan manfaat lebih baginya?
Apakah dengan mampu membaca seseorang jadi suka membaca dan menambah
wawasannya hingga dunianya akan semakin luas? Dan apakah dengan
mampu menulis seseorang dapat menuangkan pemikiran & gagasannya?
Sangat disayangkan apabila kemampuan itu cukup bertujuan agar dapat
membaca instruksi guru di papan tulis dan mencatat tugas & jadwal
pelajaran di buku tugas di SD kelak.
Proses pembelajaran di Smipa mendorong anak
untuk tahu lebih banyak, mencari jawabannya dan manfaatnya akan
menetap dalam diri anak bagaikan tanaman yang menyerap air &
zat hara dari dalam tanah agar dapat tumbuh berkembang. Bukan
seperti air yang dituang ke dalam wadah tanpa mengenal bentuknya,
suatu saat air itu akan tumpah dan terbuang sia-sia.
Selama satu setengah tahun masa belajarnya
di Smipa Benita tumbuh menjadi anak yang kritis & mempunyai
rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu hingga hal-hal
kecil yang terkadang luput dari perhatian orang dewasa. Pertanyaan-pertanyaannya
terarah dan tak ada habisnya, selalu menuntut jawaban. Misalnya
pada natal yang lalu, saat makan bersama keluarga besar saya di
suatu restoran, Benita mengamati akuarium-akuarium berisi ikan &
udang yang terletak di satu sisi restoran tersebut. Benita melihat
ada botol-botol aqua di dalamnya dan bertanya mengenainya kepada
saya. Karena saya juga gak tau, Benitapun mendatangi salah seorang
waiter dan bertanya, " Mas, kenapa di dalam akuarium kok ada
botol-botolnya?". Waiter tersebut dengan ramah menjelaskan,
bahwa botol-botol tersebut berisi air yang sudah dibekukan jadi
es, agar airnya tetap dingin sehingga ikan & udang di dalamnya
dapat tetap segar. Benitapun mengangguk puas bilang terima-kasih.
Rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takut
atau ragu untuk mencari jawabnya dengan bertanya pada orang yang
tak dikenalnya.
Rasa ingin tahu Benita juga mendorongnya
untuk mengeksplor segala sesuatu. Beberapa waktu yang lalu Benita
membisikkan rahasianya dengan malu-malu kepada saya ( jadi ini tetap
rahasia ya..). Benita bercerita bahwa dia pernah memegang pupnya
karena ingin tahu seperti apa rasanya kalau dipegang & apa warnanya.
Dengan menahan geli saya tersenyum bertanya, "..trus gimana
rasanya?". Benitapun menjawab santai " ah,ternyata rasanya
biasa aja..agak lembek & warnanya coklat". Rasa ingin tahunya
mengalahkan rasa jijik! Apapun dapat menjadi obyek pengamatan &
penelitiannya.
Sekarang ini rumah makin susah rapi ( jadi
ada alesan nih,hehe..), karena selalu aja ada yang sedang Benita
kerjakan di rumah. Kadang dia menggambar, mewarnai, menggunting
gambar itu atau gambar lain yang sesuai kebutuhannya saat itu, kemudian
kadang menempelkannya / menggabungkannya dengan barang-barang bekas
lainnya. Misalnya saat ini Benita sedang membuat rumah dengan isinya,
yang semuanya terbuat dari barang bekas & sedang mengerjakan
gambarnya yang besaaar karena terdiri dari beberapa kertas yang
digabungkan. Benita tahan berjam-jam mengerjakannya. Bisa dibilang
saat ini susah untuk membuang barang bekas di rumah, karena kalau
kelihatan Benita pasti langsung dimintanya, katanya pasti akan berguna
untuk membuat sesuatu. "Kita kan harus berhemat, ma..",
nasehatnya kepada saya kalau saya protes 'simpanan'nya membuat rumah
(tambah) penuh.. (hahaha..)
Selain itu inisiatif Benita juga cukup besar.
Kemanapun pergi Benita hampir selalu mempersiapkan 'senjata'nya
dari rumah, yaitu kertas dan alat tulisnya. Bisa dibilang Benita
tidak pernah menganggur. Misalnya pada saat menunggu giliran di
dokter gigi. Benita langsung menggambar, kemudian menuliskan nama
dokternya (saya bantu mengejanya) : Swanty. Katanya akan diberikan
sebagai hadiah untuk dokternya kalau tiba gilirannya diperiksa.
Untungnya dokternya 'sejiwa', beliau menerima gambar tersebut dengan
suka hati, memujinya, sehingga Benita sangat kooperatif saat dibenahi
giginya. Pernah dokternya bercerita ada anak (kebetulan Benita sempat
berkenalan dengan anak laki ini) yang kalau sedang diperiksa suka
menggigit jarinya yang terselip di mulut anak itu sampai dokternya
kesakitan. Benita mampu berempati pada dokter tersebut dengan menghiburnya
dan mendoakan agar anak itu sadar untuk tidak menggigit dokter Swanty
lagi karena sakit.. Sampai sekarang Benita sangat menyayangi dr.Swanty
ini..lewat tempat prakteknya aja udah seneng banget.. hal yang tidak
pernah terbayangkan karena dia pernah trauma & sangat ketakutan
diperiksa dokter gigi tahun lalu.
Bercerita tentang Benita bukan berarti dia
adalah seorang malaikat kecil yang sempurna.. Sama seperti anak
lainnya, ada aja kenakalannya apalagi dengan ditambah 'kreatifitas'nya
yang bikin tambah pusing, hehe.. Tapi saya bersyukur, karena tawa
& tangisnya adalah murni keriangan & kesedihan khas anak-anak
seusianya.. Suatu kondisi yang 'mahal' saat ini dengan serbuan mainan,
tontonan TV & iklannya, dsb yang mendorong anak untuk konsumtif.
Semoga situasi ini dapat dipertahankan seiring dengan tersalurkannya
minat & energinya kepada hal-hal yang bersifat positif. Rasanya
di jaman sekarang gak banyak anak yang jatuh hati pada museum geologi,
lebih suka ke sana daripada jalan-jalan ke mall (kecuali sesama
temannya di Smipa, hehe.. yang senang menjadi peneliti!).
Demikian juga dengan pengamatan saya pada
sekolah-sekolah pada umumnya dan Smipa. Bukanlah lalu berarti Smipa
adalah sekolah yang unggul segala-galanya dari sekolah lain tanpa
ada kekurangan. Dengan segala daya upayanya menjadi rumah belajar
yang nyaman bagi anak didiknya tentunya Smipa juga memiliki keterbatasan
& kekurangan yang sifatnya individual bagi yang menilainya.
Namun bagi saya, apa yang dialami Benita selama di TK A dan sekarang
di TK B cukup menambah keyakinan pada diri saya, bahwa kami orang-tuanya
telah memberinya tempat yang paling ideal dan sesuai bagi dirinya,
karena di Smipa makna belajar melekat dalam jiwanya, menjadikannya
sosok pembelajar di manapun dia berada, hingga ia dapat berkembang
dan tumbuh menjadi harapan.
Proficiat untuk kerja-keras team Smipa!
Nanan, 14 Januari 2007.

|