|

Anne Nurfarina, pengantar catatan pasca kegiatan
Workshop Penyusunan Kurikulum ESD (Education and Sustainable
Development) yang difasilitasi oleh SPPM
Namanya Radiyem, seorang wanita sederhana
dari sebuah tempat terpencil di Wonogiri, Jawa Tengah, bertubuh
kurus, dengan wajah tanpa polesan bedak sedikitpun. Saya sampai
tidak menyangka kalau dia salah seorang peserta lokakarya SPPM.
Saat makan siang, saya baru bisa berkenalan.
Tangannya lebih kokoh ketimbang tangan saya yang lemah karena dimanjakan
oleh kehidupan kota. Dandanan saya lebih formil dan serba centil.
Saya jadi malu. Maka saya putuskan untuk
membuang semua pernik-pernik perlengkapan kehidupan kota yang melekat
di tubuh saya. Laptop dan perlengkapannya saya simpan di rumah orang
tua ketika pulang dulu untuk menitipkan anak-anak. Polesan lipstik
tidak saya pakai selama 3 hari di sana. Rencana untuk pulang pergi
saya ubah; saya putuskan untuk menginap.
Sepanjang hari workshop Radiyem selalu membuat
saya takjub. Ketika berbicara, saya seperti tersihir oleh urutan
kalimat yang begitu baik, bertenaga, to the point, dan fasih
dengan kata-kata asing walaupun dalam logat Jawa nan medok.
Tangan Radiyem selalu menggenggam buku yang dibacanya setiap rehat.
Subahanallah, hati saya semakin ciut.
Apa yang dia bicarakan menggambarkan betapa
keras kerja yang sudah dia lakukan, tanpa mempedulikan kondisi fisik,
finansial bahkan keluarganya demi kemajuan pola pikir para petani
di desanya. Ada satu yang saya ingat, dia bilang "Susah kalau
terus-terusan bergantung pada pemerintah. Kita jadi kerbau yang
menunggu di beri makan, dongo!".
Suatu maghrib, saya terjungkal. Ketika ikut
mengambil air wudlu di kamarnya, saya menemukan alat pemeras air
susu ibu (breast-pump) di targantung di kamar mandinya. Rupanya
dia meninggalkan seorang balita! Salut..sangat hebat. Saya kembali
tersungkur dalam sujud, bersyukur karena diberi kesempatan bertemu
dengan orang-orang hebat ini. Seperti biasa, air mata meleleh di
pipi ... memang itu hobi saya.
Radiyem membuat saya tersadar bahwa saya
masih juga susah untuk ikhlas dan legowo dalam melakukan sesuatu,
masih suka hitung-hitungan, berkeluh kesah, dan membuang airmata
untuk hal yang tidak perlu. Terbuka mata saya akan banyaknya anak-anak
kampung yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak dari sekolahnya.
Dijejali kurikulum yang mematikan kreatifitasnya. Bergantung pada
arus nasib, what ever will be, will be.
Habis ini saya akan membuat sanggar kreatifitas
untuk anak-anak kampung sebulan sekali. Walaupun itu cuma secuil
jika dibandingkan dengan yang sudah diperbuat oleh Mbak Radiyem
yang cantik batiniah ini.

|