kembali ke halaman depan

 

links & direktori

 

 


 

download file PDF

klik kanan dan

pilih 'save link as'

 

 

 


Pilihan Jawaban Menurut Buku-buku berdasar Kurikulum Nasional.
Anne Nurfarina | 17 Pebruari 2006


Suatu malam, anak saya, kelas 2 Sekolah Dasar tiba-tiba saja menangis. Sambil memperlihatkan buku tugas PPKn-nya dia menunjukan sebuah pertanyaan besar yang kemudian membawa saya pada tulisan ini. Mengapa saya disalahkan bu? tanyanya. Dalam buku tugas tersebut ada pertanyaan sebagai berikut :

"Kamu membantu ibu menyapu halaman di rumah, maka kamu adalah anak yang...."
a. Rajin b. Baik c. Membantu

Yang menjadi masalah adalah anak saya menjawabnya "b.baik" dan disalahkan oleh gurunya. Ketika ditanya mengapa disalahkan, anak saya menjawab bahwa yang benar adalah rajin, seraya menambahkan argumentasinya bahwa bukankah rajin adalah sifat yang baik? Saat itu saya berusaha bertindak arif dengan memberikan gambaran asumtif bahwa gurunya hanya ingin jawaban yang sesuai dengan teks cerita di halaman sebelumnya. Dan anak saya kembali berargumen, jika demikian nasehat saya sebagai ibu tentang sifat baik berbeda dengan teks dalam buku PPKn. Rajin dan baik dianggap tidak berhubungan.

 

Beberapa hari kemudian pertanyaan kritis muncul lagi, dalam buku keseniannya ada beberapa pertanyaan menggelitik. Perhatikan gambar berikut dan jawab berdasarkan pilihan jawaban a, b atau c :


Jawaban anak saya kembali disalahkan, karena tidak sesuai dengan teks di halaman sebelumnya. Pertanyaan mengenai gestur, yang mungkin saja ketika ditanyakan pada setiap orang akan memunculkan apresiasi yang berbeda. Misalnya saja jika 100 orang datang ke Pantai Kuta, dan ketika diminta untuk menirukan gerakan ombak menurut mereka apakah ke seratus orang ini akan melakukan gerakan yang sama? Jika jawabannya harus sama, bayangkan seratus orang datang mengapresiasi setiap bulannya, dalam setahun 1200 orang akan "Mbalelo" menggerakan tangan dengan sama, mungkinkah?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini didapat dari buku pegangan Sekolah Dasar yang diberi embel-embel: Berdasarkan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), tetapi pada kenyataannya menyuguhkan sesuatu yang naif dan abstrak tentang suatu hal yang dianggap paling benar. Terutama untuk kapasitas pemikiran seorang anak usia Sekolah Dasar di mana pemikirannya dipenuhi pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana? Dikatakan naif, karena begitulah pola pertanyaan yang disampaikan dalam buku ini lebih kepada "pemaksaan kehendak", jawaban tentang sifat baik tetapi dibuat intimidatif, seperti anak kecil yang memaksa teman-temannya untuk memandang bahwa yang benar adalah ketika dirinya menyatakan benar. Anak-anak dalam Fase Egosentris. Abstrak untuk sesuatu yang benar, karena tujuan dari pembelajaran ini tidak jelas arah dan tujuannya. Mengapa sebuah gerakan tubuh atau gestur dalam berkesenian harus dibuat dalam multiple choice? Target apa yang hendak dicapai dalam pembelajaran ini? Agar si anak lebih produktif dan kreatif dalam berkreasi, atau mencetak generasi peniru?

 

Tanpa berniat menggurui, coba kita perhatikan terlebih dahulu tentang parameter hal yang benar. Marxis dalam teorinya mengatakan:

" Apabila sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas objektif, apabila itu semua mencerminkannya dengan cermat, maka kita katakan itu semua benar; pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran".

Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu objek, yang mencerminkan tersebut secara tepat, dengan kata lain bersesuaian dengan objek termaksud. Misalnya, pengertian ilmiah bahwa tubuh terdiri dari atom-atom, bahwa bumi lebih dahulu ada daripada manusia atau rakyat adalah pembuat sejarah. Pendapat lain, Lenin, mengatakan bahwa "Every truth is objective truth" setiap kebenaran adalah kebenaran objektif. Perhatikan dengan cermat pada kata objektifitas, kita mengenalnya dalam dua hal; pernyataan dan kenyataan. Dalam contoh pertanyaan buku PPKn dan Kesenian di atas yang mencuat hanyalah pernyataan, tetapi tidak mendasarkan pada kenyataan. Bayangkan, jika rajin bukan sifat baik, adakah manusia yang termotivasi untuk mempunyai sifat ini? Atau, jika dalam mengapresiasi seni adalah analog dengan menjumlah 2+2=4, terbayang bentuk kebudayaan kita di Indonesia akan seragam dari Sabang sampai Merauke, tidak akan ada Bhineka Tunggal Ika. Sesuai dengan kenyataan?

 

Hakekat pembelajaran di Indonesia saat ini begitu terkekang oleh pola yang sentralistik. Jalur yang dianggap benar, adalah jalur yang terpusat. Padahal bila membaca konsep KBK- Kurikulum Berbasis Kompetensi, orang tua merasa punya harapan besar akan pola pendidikan yang lebih strategis ketimbang masa sebelumnya. Didukung oleh UU Pendidikan tahun 2003 tentang otonomi pendidikan dan menyiratkan keleluasaan setiap wilayah dalam mengimplementasi pola pendidikan yang disesuaikan dengan kekhasan budayanya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan, pola sentralistik masih begitu ketat. Pantauan dari penilik pada setiap kunjungannya ke sekolah-sekolah hanya formalitas dan seremonial belaka. Toh, anak-anak kami masih juga dijejali buku pegangan yang samasekali tidak kami mengerti arah tujuan pembelajarannya. Apa hakekat pembelajaran? Bukankah ini untuk membekali anak dalam mengetahui, memahami dan pandai membuat solusi? Jangan lupa, belajar adalah memaksimalkan manusia untuk memanfaatkan alat berpikir (akal) dalam menempuh kehidupannya. Seorang filsuf keilmuan D.C Mulder mengatakan:

".....Berpikir adalah membeda-bedakan hal-hal. Orang berpikir dengan sehat kalau ia dapat membeda-bedakan hal-hal yang memang berbeda, dan kalau ia menyamakan hal-hal yang memang sama. Tetapi pemikiran menjadi kacau jika orang membedakan hal-hal yang sebenarnya sama atau menyamakan hal-hal yang sebenarnya berbeda. Satu hal boleh ditambahkan; dalam pemikiran itu manusia tidak hanya membedakan hal-hal tetapi ia juga mencari relasi (hubungan) antara hal-hal yang telah dibedakan itu. Perlu dimengerti, bahwa berpikir itu bukan satu-satunya jalan untuk mendekati kenyataan yang di sekitar kita atau yang ada di dalam kita. Ada jalan lain, seperti misalnya merasa, menghendaki dan bertindak."

 

Belajar gestur dalam berkesenian adalah belajar secara praktek, sama sekali bukan pendaulatan penyeragaman berapresiasi. Dalam pembelajaran ini setiap anak di stimulasi untuk berani menampilkan gerakannya secara mandiri. Biarkan anak-anak saling mengapresiasi, bahkan membuatnya dalam sebuah tarian. Dan tentang sifat rajin, tentunya yang paling baik adalah menstimulasi setiap anak untuk mampu membuat relasi sifat rajin dalam kebaikan. Mengapa manusia harus berbuat baik, apa fungsi kebaikan dalam kehidupan. Selain itu masih banyak pola-pola kreatif dalam pembelajaran ini. Indikatornya sangat jelas, yaitu kemampuan anak untuk mengapresiasi, memahami dan berani mengemukakan pendapat dalam pola presentasi. Toh, ketika kurikulum dibuat, semua berdasarkan pada azas kompetensi yang seringkali digaungkan.

 

Dalam kasus yang telah saya sampaikan di atas, tampak sekali perbedaan hakekat pembelajaran berkesesuaian KBK dengan realisasinya. Ini menggambarkan sebuah kondisi yang berseberangan dengan istilah kompetensi itu sendiri. Apa sebenarnya kompetensi? Belumlah usai guru-guru memahaminya, isu terakhir dari Diknas istilah kompetensi dalam penyusunan kurikulum akan dirubah (Kompas bulan Februari 2006). Kita terlalu sibuk dengan istilah, yang seharusnya disadari adalah hakekat pembelajaran yang benar oleh siapapun yang memang berwenang di dalamnya.

 

Seorang teman dari LSM di Jogja mengatakan, tidak selamanya mereka bergantung pada pemerintah. Lembaga-lembaga independen bermunculan untuk mencoba mengatasi masalah pembelajaran ini. Sekolah-sekolah alternatif dengan pola active learning pun bermunculan bak jamur di musim hujan, yang dengan harga yang relatif lebih mahal namun peminatnya sangat banyak. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat tentang pola pembelajaran dalam pendidikan. Mengkhawatirkan apabila kondisi ini tidak segera disadari oleh pemerintah, karena bagaimanapun juga sekolah negeri dalam jalur Diknas merupakan sekolah mayoritas di Indonesia. Kewenangan dalam menentukan dan mengeluarkan buku-buku pegangan tentunya harus diperketat, terutama menyangkut isi dan pola penyampaian guru kepada anak. Dalam hal ini, guru-guru seringkali mengeluh karena dikejar sistem paket. Materi pembelajaran akhirnya hanya diukur oleh selesai dan tidaknya isi buku. Sekedar kuantitas, tetapi mengabaikan kualitas. Sebagai ibu, saya seringkali harus menerangkan sebagian besar isi buku pelajaran kepada anak melalui pekerjaan rumah, padahal pelajaran tersebut belum disosialisasikan.

 

Bagaimana negara ini bisa keluar dari kemelut kalau kesalahan sistem pendidikan selalu berlaku di setiap generasi. Masih mencetak buku-buku pelajaran dan pola pengajaran yang "mbalelo", tanpa disadari inilah penghambat pola pikir manusia untuk lebih mandiri dan kreatif dari generasi ke generasi di negara yang sedang sakit ini.