kembali ke halaman depan

 

links & direktori

 

 

 


Caroline Alexandra | Maret 2006

 

Pernah merhatiin ga kalau hidup kita ini pernuh kotak-kotak. Mulai dari bayi, kita dikenalkan dengan kotak-kotak, seperi box bayi yang bentuk kotak, selimut dan pakaian bayi kotak-kotak, sabun bentuk kotak. Lalu waktu balita kita dikenalkan dengan balok-balok bentuk kotak, kotak tempat mainan. Kemudian di taman kanak-kanak kita mulai dengan kotak pensil, kotak bekal, loker bentuk kotak, buku gambar dan kertas bentuk kotak. Terus di SD mulai ada buku kotak-kotak, di SMP, SMA dan PT ada milimeter blok yang bikin pusing. Belum lagi seragam kotak-kotak, dan sebagainya. Lihat saja rumah kita yang sebagian besar berupa kotak, masuk supermarket…aduuuuh, kotak semua. Pergi piknik, loooo….sawah ladang bentuk kotak juga. Naik mobilnya juga Kijang kotak sabun. Wah kalau diperhatikan hidup kita penuh kotak. Jangan kira dunia orang dewasa ga penuh kotak…tambah rumit malah, ada kotak yang kasat mata dan kotak silumannya. Ga percaya ? Lihat aja kubikel di kantor-kantor, pengkotak-kotakkan gender, ras, agama, halauan politik, makanan kesukaan (?), berat bdan (???) dan lain-lain hal yang saya juga kurang paham. Syerem ga tuh ?

 

Nah apa sih sebenarnya kotak ? Kalau ditanya pasti orang akan jawab bahwa kotak itu benda dengan 4 sisi, pake tutup di atas dan atau bawah. Hmm…buat apa sih ? Buat nempatin sesuatu biar ga berceceran atau hilang, supaya teratur dan rapi. Betul banget, apa jadinya dunia tanpa kotak. Amburadul deh, susah nyusunnya. Tapi tunggu dulu, si kotak ini juga punya sisi gelap (tulisan ini mungkin harusnya "THE DARK SIDE OF THE BOX"…kaya judul filem horor). Masa sih ? Percaya ga percaya kotak itu adalah suatu pembatas. Ya, betul pembatas untuk berbagai hal, yang nyata dan yang siluman tadi. Bener deh, coba lihat buku gambar yang umum dipakai di sekolah, bentuknya persegi panjang. Anak Cuma bisa ngisi sebesar batas-batas halamannya, kadang ada guru yang minta garis pinggir pula, supaya rapi, tapi ruang gambar makin sempit. Buku kotak-kotak untuk belajar nulis juga membatasi ukuran huruf, makin kecil makin hebat. Kubikel di kantor membatasi karyawan biar ga ngerumpi, membatasi masuknya godaan dari luar. Kotak kamar dan rumah membatasi tempat tinggal, pagar membatasi keleluasaan garong. Semuanya berniat baik, si kotak memang pelindung yang baik, lihat aja safety deposit box, brankas dsb…kotak tahan maling hebat.

 

Sayang kekuatan si kotak ini sering jadi bumerang buat kita. Ada berberapa cerita seputar kotak ini :

Buku gambar yang terbatas ruang kotaknya juga membatasi kemampuan yang sebenarnya lebih besar dalam diri seorang anak. Seorang guru gambar Jepang mempunyai cara yang baik sekali untuk mengatasi the dark side of the box. Dia memakai kertas saja, bukan buku. Anak boleh mulai menggambar di mana saja. Misalnya gambar pohon mulai dari rantingnya di tengah kertas, batangnya ga cukup….tidak masalah kertas boleh ditambah. Anak jadi semangat, tidak BT karena gambarnya bisa diteruskan sesuka hatinya. Kemampuan menggambarnya dapat terus berkembang.

 

Cerita lain saya baca di KUNG FU BOY, komik silat elexmedia, cerita seorang anak namanya Chin Mi belajar kung fu di kuil Dairin. Dia jadi jagoan di kuil itu dan sekitarnya. Tiba-tiba datang seorang anak lain Sie Fan, juga belajar kung fu ala kuil Dairin. Umur sama, jurus sama, lama berlatih sama…tapi kung fu Sie Fan jauh di atas Chin Mi, kekuatannya, kecepatannya semua lebih unggul. Kenapa ? Suhu kuil Dirin membahasnya…ternyata Sie Fan berlatih di luar kuil, bertemu dengan berbagai tantangan yang tidak dapat ditemukan di kuil. Pengalaman di luar "kotak" kuil Dairin memungkinkan dia berkembang dengan cara yang berbeda.

Satu lagi adalah cerita tentang Jules Verne. Tuan Verne ini sudah menuliskan petualangan-petualangan di luar "kotak", untuk jamannya. Dia pasti senang sekali, cerita-ceritanya jadi kenyataa. Manusia sudah pergi ke bulan, menjelajah laut dalam, meneliti perut bumi.

 

Setelah berputar-putar dalam cerita kotak, intinya apa sih ? Intinya, ada baiknya kita lupakan kotak-kotak kita pada waktu-waktu tertentu. Dengan melupakan kotak-kotak, kita sejenak akan merasakan kebebasan untuk berimajinasi, mencoba hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan, santai sebentar, lepas…bebas dari pembatas-pembatas yang bisa membebani dan bikin ide-ide mampet, macet, tidak mau keluar. Tidak percaya ? Cobalah, kita generasi tua dulu di sekolah terbiasa dengan rumput hijau, langit biru, awan putih….kalau berani ubah semua…pemandangan baru yang unik akan muncul, warna-warna baru bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam diri kita. Kalau rumput tiba-tiba ungu, mungkin akan timbul pertanyaan "Emang ada rumput ungu ? Bagus juga untuk kebun." Mungkin tindakan selanjutnya kalau jalan-jalan ke taman Cibeunying, kita akan pasang mata lihat apakah betul ada rumput ungu, atau yang rajin akan cari ensiklopedi tumbuhan.

 

Seorang anak lebih mudah berpikir di luar kotak, imajinasinya masih berani. Tapi bila rangsangan dari luar menyebabkan dia "mengkotak" dirinya, imajinasinya akan "terkotak" pula, akan timbul pola yang berulang. Rumah akan bentuk kotak dengan atap setitiga. Ajaklah dia untuk berpikir di luar kotak, perluas daya jelajah di alam imajinernya baik imajinasi fantasi (peri, penyihir, naga) dan imajinasi ilmiahnya (mobil turbo penembus bumi), bisa lewat buku cerita, buku ilmiah, perjalanan ke tempat-tempat yang menarik, pengalaman-pengalaman dengan orang-orang baru, nonton dan sebagainya. Bahkan lewat ngobrol santai di sela-sela kesibukan sehari-hari, dengan menanamkan keberanian mencoba, keyakinan untuk tidak takut salah dalam diri anak. Siapa tahu kelak dengan kebiasaannya berpikir di luar kotak, dia bisa jadi pencipta yang kreatif dan inovatif. Ajak dia menuangkannya dalam karya-karya, pasti terlihat kekayaan ragam dan kebebasan bentuk. Gambar pemandangan yang dibuatnya tidak akan hanya berupa dua gunung dengan matahari di tengahnya.

 

Secara naluriah, seorang anak dapat berpikir di luar kotak. Perhatikanlah saat dia bermain, sendok (yang menurut "kotak"-nya adalah untuk makan) akan berubah menjadi Ultraman, jadi kereta api, jadi bebek dan sebagainya. Kaos kaki (yang menurut "kotak"-nya adalah untuk bungkus kaki) akan jadi putri dengan rambut panjang atau ular belang. Kemampuan ini dapat dikembangkan secara positif.

 

Mikir di luar kotak bukan cuma monopoli anak-anak, kita juga masih bisa mencoba melakukannya. Dengan mikir di luar kotak, kita bisa dapet ide-ide yang mengejutkan. Pemecahan yang selama ini dicari, ternyata ada di luar kotak. Mungkin juga bisa menemukan hal-hal yang selama ini dicari tapi tidak ketemu-ketemu, jodoh misalnya (hehehe…) atau cara baru cari duit (HEHEHE…) Hal lain yang memungkinkan juga adalah ngintip ke dalam kotak orang lain (hmm…boleh ga ya ???), atau ngajak orang lain lihat kotak kita (idiih…malah ngajak masuk kotak…jangan, nanti terjebak dalam kotak baru).

 

Kata-kata yang lebih tepat bisa jadi ini : mungkin kita sadar juga bahwa diri kita juga merupakan kotak, kotak "aku". Bila kita melupakan sejenak "kotak" ini, kita akan melihat kotak-kotak "aku" yang lain. Bila semua melupakan kotak "aku" masing-masing, mungkin kita akan melihat EMPATI terbebaskan dan memeluk kita semua. Jadi suasana yang lebih enak untuk ngobrol, bertukar ide, saling mengerti, mengembangkan potensi yang terpendam dalam diri masing-masing dan sejuta hal positif lain. Asal jangan buat hal-hal yang negatif (nyiptain mesin pemalsu uang, cara-cara baru membobol bank…mungkin kriminil-kriminil itu juga jagoan berpikir di luar kotak, tapi belok ke yang negatif…bahaya tuh). Tanpa terbatasi kotak cewe-cowo, kamu demokrat aku sosialis, aku kulit putih kamu kulit hitam dan seterusnya.

 

Boleh juga dengerin IMAGINE-nya John Lennon yang kayanya juga cerita tentang THINKING OUTSIDE THE BOX. Agak ekstrim ? Tergantung kotaknya.

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
No greed or hunger
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

 

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us

And the world will live as one

 

Imagine no possessions
I wonder if you can
Nothing to kill or die for
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

 

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one