links & direktori

 

 

 

[Luar biasanya daya imajinasi anak dan pengalaman mengantar anak melangkah gembira ke sekolah]

Lyn Sariaty Kuwandy | 27 Januari 2006

 

 

Namanya Mulan [Mu : elegant grace honor peace, Lan : bunga Anggrek, makna: perseverance]. Tampilan sosok mungilnya lucu sekali, dengan raut muka khasnya yang sangat oriental look. Selalu terlihat cerah, murni gambaran anak yang tumbuh bahagia di masa dan di dunianya... dunia penuh petualangan, antusiasme dan hal-hal ajaib nan membahagiakan.

 

Lahir sebagai anak sulung, usianya baru saja menginjak tahun ke tiga, masih kecil memang… (dibandingkan kita yang hitungan usianya sudah bisa dalam satuan abad). Namun karakter kuat terpancar lewat sorot matanya yang tajam mantap, dia datang dari tipe ‘kutahu yang kumau’- punya prinsip [cocok ya dengan gambaran ksatria Fa Mu Lan-nya Disney]. Sekecil itu, padanya sudah tertanam mantap pemahaman konsekuensi. Ia memang dibiasakan dan lalu menjadi terbiasa dihadapkan pada pilihan dengan segala konsekuensinya. Untuk urusan pemilihan sekolahpun orangtuanya melibatkan si kecil Mulan ikut menentukan sekolah mana yang cocok untuknya.

 

Diberikan sedikit gambaran oleh ibunya, saat memasuki lingkungan baru Mulan perlu waktu, sepanjang yang dirasanya cukup untuknya bisa mengamati dulu, lalu masuk tahapan eksplorasi untuk kemudian merasa nyaman dengan segala hal baru : ruang, benda, teman sebaya juga orang-orang dewasa yang baru dikenalnya. Sekali dia merasa nyaman, segalanya menjadi begitu mudah untuknya dan juga untuk orang-orang di sekitarnya, sebab hampir dapat dipastikan ia akan menunjukkan sikap sangat kooperatif.

 

Saat dia datang ke sekolah ini untuk beberapa kali pertama, ia sangat nempel pada ibunya (Mulan memanggilnya Mamih Tina – yang dilafalkannya dengan logat Sunda yang sangat kental ) Semakin gencar Kakak mencoba ‘meraih’nya semakin surut ia berlindung di balik rok ibu, dengan raut muka cemas erat memegang tangan atau kaki ibunya sambil tak henti berucap: “Iya, tapi sama Mamih…” setiap saat Kakak mengajaknya bermain… Ia tak pernah menolak ikut berbagai kegiatan, hanya saja ia membutuhkan waktu lebih untuk menaruh kepercayaannya pada Kakak. Dan, Kakak-kakak mengerti itu.

 

Di hari-hari awal, Mulan selalu ‘membawa’ satu ‘teman’nya untuk ikut duduk menemaninya selama berkegiatan. Diperkenalkan pada Kakak dan semua teman, bahwa si’teman’nya itu bernama Pinokio. Meski si Pinokio tak kasat mata kita, tapi dia ‘ada’ dan selalu ikut berkegiatan sebagai salah satu anak di kelas. Mulan sampai khusus memilihkan satu kursi kosong di sebelahnya, untuk si Pinokio. Mulan juga minta tambahan satu set alat bahan kegiatan yang dipakai hari itu (kertas, crayon dll). Untuk si Pinokio cukup disiapkan alat dan bahan imajiner, namun Kakak menyiapkannya dan meletakkan di meja depan kursi Pinokio, dengan cara sama persis seperti menyiapkan bahan alat untuk semua anak lain… Karena kata Mulan si Pinokio ini anak baru dan masih suka malu, ‘dia’ masih harus banyak dibantu, dijelaskan dan diajak. Siapa yang melakukannya? Mulan tentu, juga Kakak-kakak dan lucunya kemudian terlihat beberapa teman Mulan juga mulai menyapa dan mengajak si Pinokio berkomunikasi… Kalau saja si Pinokio ini benar ada, pastilah ia merasa bahagiaaa sekali, ia disambut dan diperlakukan sedemikian baiknya oleh setiap penduduk kelas itu.. 

 

Di jenjang usianya, daya imajinasi Mulan yang sangat kaya merupakan ciri khasnya sekaligus adalah kekuatan Mulan. Selain hal Pinokio, setiap hari Mulan memerankan satu tokoh yang hanya berlaku untuk hari itu saja. Hari ini ia jadi Puteri Aurora, kemarin sih jadi Wendy, besok mungkin asli si Mulan, tapi lusa akan lain lagi… Supaya tidak salah, saat Mulan datang, Kakak mencari tahu dulu identitas hari ini dengan menyapa : ‘Halo selamat siang, hari ini siapa nih?” Dan seharian itu kita semua menyapanya dengan nama tokoh hari itu… Jadi hati-hati deh jangan salah memanggil nama, kontan akan langsung dikoreksinya .  Dandananpun kadang disesuaikan dengan kebutuhan ‘skenario’. Pernah Mulan datang bercelana pendek dan t-shirt yang nyaman dipakai bermain namun tampil cantik berkerudung tipis dengan jepitan jemuran sebagai penahannya, lucu sekali – namun sekaligus tampak begitu murni!

[Kami lalu berkhayal-khayal, jika saja kita semua bisa membantu Mulan memelihara kekuatan dan kekayaan daya imajinasinya sambil terus membangun kekuatan sisi kognitifnya, bukan hal yang tidak mungkin di usia dewasanya kelak Mulan bisa menciptakan banyak penemuan canggih baru kelas dunia… sebagai realisasi perpaduan antara kekuatan sains dan imajinasi]  

 

Anak sebenarnya peka adanya, ia bisa langsung merasakan ‘energi positif’ [dan juga untuk yang negatif – terjadi saat kita salah pendekatan] yang sampai kepadanya saat kita berusaha menjalin kedekatan dengannya. Kesabaran dan kesediaan Kakak untuk menyesuaikan diri mengikuti kecepatan dan masuk ke cara Mulan berkenalan dengan lingkungan barunya, ternyata mampu memenuhi kebutuhannya akan pencarian rasa aman… tanpa banyak desakan, tuntutan ataupun serentetan target … Ini diterima sebagai satu bentuk pengakuan akan dirinya. Tak terlalu lama usahapun berbuahkan hasil, saat satu hari Mulan meminta ibunya untuk menunggu di luar : “Mamih ga usah masuk, kan yang sekolah Mulan”

 

Pinokio-pun ternyata tak terlalu lama masa bersekolahnya. Hari pertama Pinokio tak pernah lepas sekejap-pun dari Mulan. Mulan tak pernah lupa mengajak Pinokio kemanapun Mulan pergi, frekuensi Mulan mengajaknya berkomunikasipun sangat tinggi. Beberapa hari awal masih berlangsung demikian.

Lalu Mulan mulai lupa mengajak pulang si Pinokio. Satu hari saat mengantar pulang, Kakak bertanya : “Lho Mulan, Pinokionya ga diajak pulang?” Mulan tersenyum lebar : “Oh iya ya, Mulan lupa.. Yuk Pinokio kita pulang…” katanya sambil membukakan pintu mobil dengan sopan mempersilakan si Pinokio masuk ke mobil.

 

Dua hari berikutnya, saat datang Mulan memberitahu Kakak: “Hari ini Pinokio ga ikut, lagi sakit batuk, jadi dia di rumah, harus istirahat.” Seharian itu Mulan teramati asyik bermain penuh bersama teman dan Kakak, tak terlihat lagi kebutuhan ditemani Pinokio… Pulangnya Kakak berpesan: “Titip salam untuk Pinokio ya, semoga cepat sembuh. Suruh minum obat yang pinter. Kalo udah sembuh, dia boleh main ke sini lagi kalo dia mau..“ Ia mengangguk. 

 

Hari-hari berikutnya Mulan sudah berani hanya diantar dan dijemput, happy melepas ayah atau ibunya pulang dan happy menyambutnya kembali dengan rentetan cerita panjang dan detail. Di kelas, teramati Mulan selalu bersemangat diajak terlibat pada berbagai macam kegiatan (membangun sesuatu dengan Lego, menggambar ekspresif, menyanyi, bermain peran tentunya dll). Mulan juga berinisiatif tinggi menjalin komunikasi dengan teman dan Kakak. Di titik ini Kakak boleh berbangga, telah mendapatkan satu kehormatan besar: menerima kepercayaan dari seorang Mulan. Satu titik prestasi mendasar seorang Guru.

 

Menengok catatan pengamatan kami tentang Mulan ini, terbersit sedikit banyak rasa heran. Bagaimana mungkin anak seperti Mulan sebagai seorang anak umur 3 tahun yang kita nilai begitu fasih menyesuaikan diri, cukup matang dan begitu ‘kaya’, pernah punya pengalaman kesulitan masuk ke lingkungan sekolah sebelum ini? Ia konon mogok, menolak masuk kelas dan lebih memilih berbincang-bincang dengan penjaga sekolah yang sedang sibuk menyapu halaman daripada bergabung dengan teman-temannya ‘belajar’ di kelas.

  

Mungkin kuncinya adalah memang di kesabaran dan kemauan kita untuk mau memahami. Seperti halnya kita, anak juga punya gaya dan cara tersendiri yang unik - berbeda dengan anak lain; setiap anak ada ‘bawaan’ masing-masing. Jadi pembakuan satu cara pendekatan untuk semua anak sepertinya terlalu gegabah untuk diterapkan. Mulan dengan kekuatan imajinasinya; anak lain mungkin lewat ketertarikan khusus akan hal tertentu (seperti musik, sains atau macam-macam permainan). Kita seharusnya mau mengenali anak, mencoba memandang melalui sudut pandang mereka dan lalu ‘masuk melalui pintu anak’.

 

Kadang kita lupa. Saat anak kita pertama kali bersekolah, mereka dihadapkan pada satu situasi perubahan yang begitu dashyat, dalam ukurannya. Pada masa peralihan dari lingkungan rumah masuk ke sekolah, jika ada pihak yang seharusnya melakukan usaha lebih, tak perlu debat : kitalah sebagai orang dewasa yang seharusnya mau menyesuaikan diri. Pada saat yang sama, kita sebenarnya memberikan pada anak cukup waktu dan kesempatan untuk berproses menyesuaikan diri menurut cara yang dirasanya nyaman.

Seiring itu, kita orangtua juga harus peka dan bijak untuk pada saatnya mau mundur dan memberikan kepercayaan penuh pada si anak saat sudah merasa nyaman dan berani untuk lepas total dari orangtua dan  berkegiatan penuh bersama Kakak selama jam bersekolah.

 

Diharapkan kemudian sekolah - dengan wujud fisik, program dan jajaran gurunya, untuk anak-anak dari usia dini ini bisa menjadi satu tempat yang menyenangkan untuk dituju dan dijelajah, tanpa perlu ada pengalaman traumatik karena merasa tercerabut dari lingkungan nyaman rumah sebagai satu-satunya tempat yang sebelumnya dikenal anak. Start yang baik ikut menentukan ‘keselamatan’ perjalanan panjang masa bersekolah anak-anak kita.