|
Sekedar Berbagi : Bermain Bersama Anak Jalanan
Feka Angge Pramita | Desember 2005
Suatu hari di jalan Pasteur "Alo, nama
kakak, Feka, nama kamu siapa?" Anak yang saya ajak kenalan
hanya diam dan tersenyum malu. Tiba-tiba, "Alo kak, namaku
Puspa, ini temanku Cucu. Kakak namanya siapa?" Tanya anak perempuan
mungil dihadapan saya mengenalkan temannya yang berkacamata yang
tadi saya ajak kenalan..

Cucu dan Puspa adalah anak jalanan yang dulu
biasanya saya temui untuk bermain. Saya bertemu dengan mereka ketika
saya dan teman-teman sepakat untuk menjadi teman mereka dan membantu
dalam hal pendidikan. Pada awalnya saya tidak membayangkan bahwa
mengajak bermain anak adalah pekerjaan yang berat. Setiap 2 minggu
sekali, saya dan teman-teman mengumpulkan anak-anak di daerah Pasteur
dan BIP untuk mengajak mereka bermain, bernyanyi dan menggambar.
Sedangkan 1 minggu sekali saya mengajar anak-anak jalanan yang putus
sekolah di kawasan Pasteur membaca, menulis dan berhitung. Pada
awalnya semua dilakukan dengan tulus hati untuk membantu mereka.
Namun karena saya tidak punya latar belakang seorang pengajar sehingga
seringkali saat bermain atau mengajar tidak memberikan kesan yang
menarik bagi mereka. Ternyata bermain dan mengajar anak-anak kecil
itu susah ya
. Apalagi belum ditambah dengan pribadi mereka
yang berbeda. Saat itu saya sadar bahwa saya juga harus belajar
bagaimana cara mengajar yang baik sehingga membuat anak-anak fun
dan tertarik pada tema yang diajarkan.

Meskipun mengajar dan bermain dengan anak
jalanan hanya berjalan 2,5 tahun dan sekarang terhenti karena saya
masih aktif dikampus namun saya masih sering bertemu jika melintasi
Pasteur. Anak jalanan, menurut pendapat umum, identik dengan kekerasan
dan kenakalan namun saat ngobrol dengan mereka, terlihat jelas bahwa
jiwa anak masih ada dalam diri mereka. Jiwa yang polos, banyak bertanya,
banyak mencoba sesuatu dan jiwa bermain. Hanya saja karena tekanan
ekonomi membuat mereka harus bekerja di jalan sehingga menutupi
keluarnya jiwa tersebut.

Anak-anak tetaplah anak-anak dimanapun mereka
tinggal dan hidup, anak-anak pasti mengikuti tahap perkembangan
anak pada umumnya. Hanya saja tergantung faktor lingkungan yang
mempengaruhi yang akan membentuk kepribadian anak. Seorang tokoh
psikologi mengatakan bahwa anak adalah miniatur orang dewasa, maka
anak berbicara dan juga berpikir seperti orang dewasa sehingga dapat
diperlakukan sebagai orang dewasa. Namun dalam kenyatannya tidak.
Anak dengan orang dewasa sangat berbeda.

Tidak hanya pada hal fisik namun juga kognitif,
emosi dan tingkah laku yang akhirnya membentuk kepribadian. Karena
perbedaan-perbedaan tersebut maka dalam menghadapi anak tentu saja
berbeda. Sebagai pengalaman ketika saya meminta Cucu dan Puspa bercerita
maka mereka akan bercerita dengan gaya yang berbeda. Cucu awalnya
bercerita dengan malu-malu dan lebih banyak diam dan hanya menjawab
jika ditanya saja. Puspa dapat bercerita dengan detail dan runut
tentang kejadian yang saya tanyakan. Ternyata setiap anak berbeda
juga dalam penuturan, intinya anak sebagai pribadi yang baru tumbuh
juga merupakan individu yang unik.

Anak disatu sisi sama seperti kita, orang
dewasa, namun juga harus diingat bahwa anak juga berbeda dengan
kita. Ada kalanya anak harus diperlakukan sebagai individu yang
bebas dan ada kalanya anak harus diperlakukan sebagai individu yang
belum tahu apa-apa sehingga harus diberitahu. Saya sekarang tahu
bahwa saya harus sering memposisikan diri saya sejajar dengan
anak untuk dapat mengetahui apa yang anak rasakan, pikirkan dan
perbuat.

|