|
dari RoadShow Kampanye Pendidikan untuk Anak - Sanggar Anak Akar
di Taman Budaya Jawa Barat
Andy Sutioso | Januari 2006
Cukup mendadak saya dikontak teman saya kang
Andar Manik (dari Jendela
Ide), mengajak Semi Palar untuk ikut hadir dalam satu kegiatan
yang iinisiasi oleh Sanggar
Anak Akar, sebagai bagian dari Road Show pertunjukkan mereka
ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saya
sebetulnya agak ragu karena sebagai sebuah lembaga pendidikan, Semi
Palar masih sangat baru dan muda, dan belum banyak hal yang dilakukan,
dibandingkan dengan lembaga lainnya.
Tapi saya pikir, mudah-mudahan Semi Palar bisa hadir dengan menyumbangkan
suatu spirit baru bahwa tindakan-tindakan kita untuk pendidikan,
untuk anak-anak kita masih jauh dari cukup, dan sekecil apapun kita
perlu mencoba melakukan sesuatu.
Tentang Sanggar Akar sendiri saya sudah dengar
cukup lama, dan sudah cukup lama saya ingin mencari tahu lebih banyak
tentang komunitas ini dan aktifitas-aktifitasnya. Dari kang Andar,
saya mendengar juga bahwa ada beberapa teman dari beberapa komunitas
yang akan terlibat. Mendengar lebih jauh tentang event ini minat
saya segera tumbuh, dan kemudian kami berusaha melakukan persiapan
untuk event ini.
Setelah menset-up materi pameran, keesokan
harinya ada kegiatan workshop 2 hari. Di lokasi workshop, saya sangat
beruntung bisa berkenalan dengan beberapa teman baru, dengan kiprahnya
masing-masing di berbagai 'arena' di bidang pendidikan. Terlepas
dari materi dan kegiatan workshop, saya berkesempatan untuk ngobrol
dengan beberapa teman. Dan bincang-bincang singkat ini sangat membuka
wawasan saya tentang banyak hal.
Kesan pertama yang saya dapat adalah betapa
problem pendidikan kita begitu parahnya, di semua lini. Sederhana
melihatnya karena begitu banyak inisiatif teman-teman dari berbagai
komunitas di berbagai lokasi untuk melakukan sesuatu untuk pendidikan
anak-anak. Sebuah kelompok bergerak di Garut untuk membantu anak-anak
buruh tani yang tidak punya kesempatan sekolah. Inisiatif yang dilakukan
Boy, Ince dan teman-temannya melalui MT Sururon saya lihat begitu
luar biasa, sampai akhirnya saya berpikir 'beruntunglah' di sekitar
situ tidak ada sekolah sehingga akhirnya anak-anak tersebut justru
dapat sentuhan luar biasa yang bisa sangat memperkaya mereka karena
kepedulian teman-teman tadi. Bukan sekedar pendidikan formal yang
belum tentu jelas juntrungnya.
Sebagian kecil dari anak-anak jalanan di
Jakarta saya lihat juga justru 'sangat beruntung' karena dapat sentuhan
dari teman-teman di Sanggar Anak Akar. Mereka justru bisa menemukan
diri mereka sendiri tanpa harus duduk di bangku sekolah formal.
Apa yang dilakukan oleh relawan Sanggar Anak Akar, mas Ibe Karyanto
dan teman-teman justru lebih menyelamatkan mereka dan membawa makna
yang lebih nyata daripada sekedar selembar ijazah SD saat mereka
bisa duduk di bangku sekolah formal. Dalam diskusi kelompok saya
menyampaikan komentar bahwa situasi mereka di Sanggar Anak Akar
justru memposisikan mereka 'jauh lebih baik' daripada katakanlah
mereka punya uang untuk bisa duduk di bangku sekolah formal.
Dalam diskusi tersebut, saya ada dalam satu
kelompok dengan seseorang anak muda dari Sanggar Akar, (kawan,
saya minta maaf nama anda lepas dari memori saya, nanti kita jumpa
lagi saya pasti ingat anda). Saya tidak akan pernah lupa kesan
yang saya dapat dari dia dalam pertemuan itu. Di diskusi itu saya
terus berusaha mencatat bahwa dia adalah seorang anak yang hidup
dan besar di jalanan di Jakarta. Pertanyaannya, bagaimana bisa dia
tampil seperti itu. Percaya diri, penuh wawasan, kritis, berani
berpendapat, cerdas - terlepas dari tampilannya yang khas anak muda
di jalanan: rambut gondrong, kaos dan celana hitam, sepatu boot
dan asesoris ala 'metal'. Kualitas yang justru tidak saya temui
di para mahasiswa saat saya mengajar di sebuah ruang kuliah kampus
universitas katolik yang (katanya) paling hebat di Bandung. Saya
tidak akan pernah lupa perjumpaan ini dan akan selalu jadi catatan
kecil yang penting bagi saya.
Kelompok lain, mas Trisno yang hadir mewakili
SOS Kinderdorff, adalah kelompok yang menangani anak-anak yatim
piatu. Mas Achok, dari kelompok yang menamakan diri Semak (Solidaritas
Masyarakat Anak) membantu mendampingi anak-anak jalanan di Bandung,
memberikan kesempatan dan pendampingan bagi anak-anak ini untuk
bisa berkegiatan secara kreatif lewat berbagai media kesenian. Satu
sisi yang saya yakin sangat mereka butuhkan untuk bisa ikut mengatasi
kerasnya hidup sehari-hari yang mereka jalani.
Jendela Ide, yang kegiatannya dikoordinasi
Marintan dan Andar Manik mencoba mengatasi ketidak-seimbangan materi
dan pola belajar dan lebih jauh lagi, membuka pintu untuk anak dan
remaja bisa bersentuhan dengan wilayah kebudayaan melalui cara dan
suasana yang mudah diterima mereka.
Inisiatif-inisiatif ini, yang istilahkan
oleh mas Eddie dari FPPM (Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat)
sebagai partisipasi masyarakat, memberikan gambaran tentang kompleksnya
permasalahan pendidikan di Indonesia. Munculnya kelompok-kelompok
dengan inisiatifnya masing-masing tentunya timbul saat sebuah kondisi
bermasalah berkembang sampai tingkat tertentu dan inisiatif masyarakat
ini muncul sebagai reaksi balik terhadap permasalahan tersebut.
Dari berbagai lapisan dan kondisi masyarakat,
ternyata inisiatif masyarakat melalui orang-orang yang peduli bermunculan.
Mulai dari daerah terpencil di pedesaan di Garut, anak-anak jalanan
di kota besar, anak-anak Yatim Piatu, sampai ke kalangan anak-anak
yang sebetulnya punya kesempatan untuk duduk di bangku sekolah dan
mengecap pendidikan. Masing-masing hadir dengan permasalahannya
sendiri-sendiri.
Solusi yang komprehensif untuk permasalahan
ini saya kira sangat sulit dicapai dengan kondisi kita sekarang
ini, termasuk oleh ketidak-mampuan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah
ini. Dalam banyak hal, jelas bahwa inisiatif masyarakat jauh lebih
jitu untuk permasalahan-permasalahan yang dihadapi dan dipahami
secara langsung oleh masyarakat, khususnya oleh mereka yang punya
kepedulian.
Di titik ini, yang kita perlukan adalah usaha
untuk memetakan kelompok-kelompok yang ada. Dari event di Taman
Budaya ini, saya yakin hanya sedikit yang tampil dan kebetulan bisa
bertemu. Tentunya akan sangat bermanfaat kalau masing-masing kelompok
dengan wilayah gerak dan orientasi bisa saling mengenal dan berinteraksi,
bahkan saling belajar satu sama dari yang lain. Dengan cara ini,
tentunya peluang untuk bekerja sama dan bersinergi bisa sangat terbuka.
Dari sisi pemerintah dan birokrasi, akan
sangat bijaksana kalau bisa merangkul dan memberi kepercayaan bahkan
memfasilitasi kelompok-kelompok ini untuk lebih mudah bergerak.
Yang dibutuhkan adalah bukan regulasi dan pengaturan-pengaturan
yang kaku dan tidak jelas juntrungannya. Kalaupun belum bisa berbentuk
apresiasi, kepercayaan akan sangat membantu kelompok-kelompok ini
untuk bergerak membantu masyarakat, dan sebetulnya membantu pemerintah
melaksanakan tugasnya melayani masyarakat.
Untuk saya pribadi, saya sungguh merasa beruntung
bisa hadir di kegiatan ini. Sangat membuka mata dan wawasan, selain
untuk mengingatkan dan merefleksi bahwa apa yang dilakukan teman-teman
di wilayah yang sama, di wilayah pendidikan adalah sangat luar biasa...
Semoga saya juga teman-teman di Smipa punya kesempatan untuk belajar
dari mereka.
Di hari pertunjukkan Nyanyian Para Boneka
yang ditampilkan Sanggar Anak Akar, saya hadir bersama anak saya
Inka (9 tahun). Sebuah pertunjukkan luar biasa dari awal hingga
akhir... alur cerita, tata musik, koreografi, tata panggung, kostum,
semuanya. Saat menyaksikannya lagi saya harus berusaha terus mengingatkan
diri bahwa pagelaran ini adalah karya anak-anak yang sehari-hari
hidup dan besar di jalanan, dengan segala tantangan dan problematika
yang mereka hadapi. Di panggung teater tertutup Taman Budaya mereka
tampil, sekali lagi, luar biasa.
Saya sangat tersentuh menyaksikannya, mencatat
dalam batin bahwa kepedulian yang sejati bisa punya kekuatan luar
biasa. Memfasilitasi siapapun dalam kondisi apapun melalui apa yang
kita istilahkan sebagai pendidikan - dengan cara yang tepat - punya
kekuatan untuk mentransformasi.
Bagi anak-anak Sanggar Akar sebagian besar
dari mereka akan tetap hidup di jalanan. Dan memang mungkin sebagian
dari mereka memilih untuk hidup di jalanan. Tapi memilih atas kesadaran
penuh atas situasional dirinya, termasuk atas potensi dan kekuatan
yang dimilikinya.
Melalui tampilnya mereka di atas panggung,
mereka punya harga diri, melalui apa yang dikerjakannya mereka punya
percaya diri. Saat mereka berdiri di panggung menerima applause
dari penonton, mudah-mudahan mereka mendapatkan siraman keyakinan
atas eksistensi diri mereka, yang menumbuhkan mereka sebagai seorang
individu, seorang manusia.
Mudah-mudahan anak saya juga bisa merefleksi
dan kesempatan ini jadi sesuatu yang juga menyentuh dia. Buat kita,
buat anak-anak kita, seharusnya kita harus berbuat lebih baik dan
bisa jadi lebih baik dari mereka...
Seperti apa yang disemboyankan teman-teman
di sanggar anak akar : untuk anak-anak,
pemilik masa depan, pendidikan tidak bisa ditunda.
catatan kaki :
tulisan ini dirangkai sebagai catatan pengalaman dari kegiatan di
Taman Budaya Jawa Barat yang merupakan bagian dari Road Show Kampanye
Pendidikan untuk Anak (Solo, Malang, Yogyakarta, Bandung) yang diselenggarakan
Sanggar Anak Akar. Kepanitiaan
kegiatan di Bandung - Jawa Barat ditangani oleh Jendela
Ide.

|