|

Andy Sutioso | November 2005
Sudah lama muncul pertanyaan di antara kami
di Semi Palar. Kenapa akhir-akhir ini semakin banyak bermunculan
anak-anak 'bermasalah'? Mulai yang kesulitan belajar, tidak bisa
berkonsentrasi sampai ke kasus-kasus anak berkebutuhan khusus? Dalam
waktu singkat sejak kita merintis Rumah Belajar Semi Palar, seakan-akan
dengan mudah kami bertemu dengan anak-anak yang disebutkan sebagai
anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang tumbuh berkembang dengan
gangguan atau keterhambatan tertentu. Anak-anak yang disebutkan
termasuk anak yang 'mengidap' ASD (Autistic Spectrum Disorder) -
salah satu dari sekian luasnya spektrum autisme, ADD, ADHD atau
banyak lagi istilah lainnya. Atau banyak juga anak-anak yang tidak
bisa fit-in di sekolah umum. Singkatnya anak-anak yang harus
mendapat perhatian dan penanganan khusus dari kita orang dewasa,
guru dan orang tua. Kenapa? Itu pertanyaan utamanya.

Dari pengalaman lain sebelum
Semi Palar, melalui banyak dialog pembicaraan dengan beberapa teman
dan kenalan, beberapa hal seakan mendorong kami ke arah sebuah kesimpulan,
bahwa ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita semua saat
kita membesarkan anak-anak kita. Ataukah ini memang pertanda kita
mulai lupa terhadap sempurnanya ciptaan Tuhan. Apakah kita mulai
tinggi hati dengan segala kecerdasan dan intelektualitas kita manusia?
Mungkin demikian? Tapi apapun itu, mudah-mudahan tulisan ini bisa
membantu kita masing-masing untuk merefleksi dan menilai kembali
apa-apa yang selama ini, sedang dan akan kita lakukan, terutama
dalam membesarkan anak-anak kita, titipan Tuhan kepada kita.

Pertama-tama, jangan-jangan kita lupa bahwa
anak adalah anugerah karunia Sang Pencipta yang luar biasa, yang
seharusnya diberikan kepada kita pada waktu yang tepat menurutNya.
Tapi sekarang kita sebagai manusia, dengan kemajuan luar biasa di
bidang pengetahuan dan teknologi medis, seakan-akan sudah mampu
memby-pass kebijakan - kebesaran Tuhan... Di tahun 2000, yang menurut
tradisi China adalah tahun Naga Emas, kita tahu betapa banyak pasangan
orang tua yang berusaha mendapatkan anak. Banyak di antara mereka
yang minta 'diprogram' kehamilannya oleh dokter baik melalui diet,
obat-obatan, hormon dan berbagai metoda, walaupun diantaranya tidak
sedikit yang sudah lebih dahulu hamil untuk melahirkan bayinya di
tahun Naga Emas tersebut...
Apa yang terjadi? Sekian banyak bayi-bayi
tersebut sekarang ini di tahun 2004-2005, mendadak kasus masalah
bawaan pada anak mendadak mencuat, karena anak-anak itu sekarang
ada pada usia sekolah. Sebelumnya, saat belum berdampingan dengan
anak-anak sebaya, orang tua kurang memperhatikan 'perbedaan' yang
ada dan sekedar melihat bahwa anaknya toh masih kecil atau belum
mengerti. Saat masuk lingkungan sekolah, permasalahan bawaan yang
banyak dikenal dengan autisme, hiperaktifitas, atau istilah sederhananya
anak kita nakal, begitu banyak kita jumpai.

Kasus lain yang kita amati adalah banyaknya
anak yang membawa masalah perkembangan karena melampaui tahapan
merangkak. Tahapan ini ternyata sangat penting saat bagi perkembangan
jaringan syaraf anak termasuk menjadi kuatnya tulang belakang dan
banyak lagi lainnya. Anak tidak merangkak bisa karena banyak sebab
karena terlalu banyak ditinggalkan di box atau dibiarkan berkeliaran
di dalam 'baby walker' yang sekarang model dan desainnya begitu
menariknya bagi orang tua. Persepsi orang tua yang merasa bahwa
'wah anakku hebat bisa langsung jalan' apalagi dalam usia muda ternyata
dibarengi potensi masalah bawaan di tahapan selanjutnya. Saat
anak merangkak, saat anak jatuh tersungkur atau jatuh terduduk,
saat belajar menempatkan satu tangan kedepan berbarengan dengan
kaki belakang maju bergantian, pada saat itulah koordinasi sensori
dan syaraf-syaraf anak dibangun. Belum lagi bagaimana tulang belakang
anak dilatih untuk mampu mendukung beban tubuh anak, menahan kepala
tegak ke atas sebelum akhirnya anak belajar berdiri. Proses ini
adalah luar biasa berharga...

Selanjutnya setelah anak bisa berdiri, dan
mencoba melangkah, orang tua modern cenderung melindungi seluruh
tubuh anaknya, terutama kaki dengan sepatu-sepatu rancangan terbaru
dengan ganjel-ganjel di telapak kaki ala Nike Air... Alas
kaki serba tebal, model-model serba lucu dan menggemaskan ditambah
ketakutan orang tua akan kekotoran, cacing, permukaan lantai yang
kasar, takut kedinginan dll, mendorong orang tua untuk membungkus
kaki anaknya yang 'sangat berharga' dengan alas-alas kaki yang serba
canggih. Padahal, saat anak belajar melangkah, jaringan saraf-saraf
seluruh tubuh dibangun koneksinya pada setiap langkah yang dijejakkan
anak melalui permukaan lantai yang bervariasi. Pada setiap langkah,
pada permukaan lantai yang berbeda, yang kasar, halus, licin, panas,
dingin, basah, kering, becek, berbutir... Pada saat itulah syaraf
anak dibangun...

Kalau kita ingat pijat refleksi, seluruh
organ tubuh kita punya hubungan syaraf di telapak kaki, sehingga
terapi ke sebuah bagian tubuh bisa dilakukan melalui telapak kaki.
Bayangkan kalau syaraf-syaraf di permukaan telapak kaki kita tidak
saling terkoneksi, bagaimana akibatnya terhadap apa yang terjadi
di seluruh tubuh kita.

Secara ilmiah, terkoneksinya jaringan syaraf
yang berfungsi menerima input sensori (rangsang) kemudian di sampaikan
ke otak dan di kembalikan ke syaraf motorik untuk menghasilkan respon
tertentu oleh tubuh kita disebut Sensory Integration. Banyak
kasus masalah perkembangan anak menyangkut masalah keterhambatan
di Sensory Integration ini. Terapi Autisme, Hiperaktifitas, dan
lain-lainnya akhirnya harus banyak melibatkan terapi SI yang sebetulnya
bisa dihindarkan saat anak sewaktu bayi dibiarkan membangun keutuhan
keseluruhan jaringan tubuhnya secara alamiah tanpa banyak intervensi
dari luar.

Saya pernah dengar pula bahwa paksaan bagi
anak untuk menulis terlalu dini (apalagi menulis sambung) berperan
merusak SI ini. Perkembangan motorik anak pada usia TK adalah terutama
pada motorik kasar, dan perkembangan motorik kasar akan mendukung
perkembangan motorik halus. Anak yang dipaksa menulis pada saat
motorik kasar belum berkembang baik mendorong tubuh anak untuk mencari
kompensasi dari kondisi ini. Anak-anak yang belum siap menulis,
mereka yang justru membutuhkan kegiatan fisik yang dinamis tapi
dikondisikan untuk menulis, cenderung bereaksi negatif, jadi nakal,
atau melawan dan lain sebagainya, sebagai reaksi stress yang diterima
tubuhnya. Sekolah atau guru yang tidak paham hanya mampu mengecap
anak ini sebagai anak nakal, dan untuk mengatasinya orang tua
justru mencarikan guru les menulis untuk mengatasi masalah ini.
Karena masalah sesungguhnya tidak diketahui, dan solusinya tidak
tepat, masalah biasanya memburuk. Lebih parah lagi, anak jadi benci
sekolah, benci belajar.

Satu contoh lagi, khas di Indonesia, di mana
trend atau kecenderungan para ibu melahirkan melalui operasi Caesar.
Entah dari mana mulainya, tapi demikianlah adanya. Sementara proses
bersalin di negara-negara maju sedapat mungkin dilakukan secara
normal, di Indonesia kecenderungan yang ada justru sebaliknya. Apakah
ini gejala komersialisasi di kalangan medis, atau ketertinggalan
pengetahuan kalangan medis Indonesia, saya tidak tahu. Sebuah penelitian
sebetulnya menyimpulkan bahwa anak-anak yang dilahirkan melalui
persalinan secara normal, pada saat dewasa menunjukkan kematangan
emosional yang lebih baik. Karena memang proses bayi di jalan lahir,
adalah proses alamiah yang luar biasa, di mana sang bayi dipersiapkan
melalui perubahan-perubahan hormonal yang alamiah dan saya yakin
juga melalui pertalian batin yang luar biasa antara ibu dan anak
untuk menyiapkannya lahir ke dunia.

Bayi-bayi yang lahir melalui operasi Caesar,
seakan direnggut keluar tanpa peduli terhadap kesiapan emosional
bayi yang seharusnya dilaluinya. Dan ini banyak terjadi karena para
dokter (mungkin juga para ibu) lebih memilih untuk bayi menyesuaikan
kelahirannya terhadap jadwal yang diinginkan dokter atau ibu, dibandingkan
dengan waktu kelahiran alamiah, saat ibu dan sang bayi sama-sama
siap untuk menjalankan proses persalinan dan lahir ke dunia.

Kesimpulan umumnya, manusia modern, kita-kita
ini sekarang sepertinya jadi sombong, sok tahu, dan juga tidak sabar.
Kalau kita renungkan, Tuhan, yang Maha Kuasa sudah merancang segala
sesuatunya dengan sempurna... termasuk untuk waktu-waktu yang tepat
saat segala sesuatu seharusnya terjadi. Dan kita manusia dengan
segala kesombongannya merasa bisa membuat segala sesuatu lebih baik
daripadaNya. Kita menciptakan berbagai macam teori, metode, alat,
obat, dan segala sesuatu dan melakukan intervensi pada proses-proses
yang seharusnya berlangsung alamiah. Kita berpikir bisa membuatnya
lebih baik, lebih cepat dan lain sebagainya. Manusia memang sombong,
dan serba tidak sabar... Dan akhirnya kita merusak semuanya... Tulisan
ini disusun tanpa sedikitpun bermaksud mendiskreditkan mereka yang
kebetulan mengalami masalah-masalah di atas. Tulisan ini justru
didorong oleh keprihatinan kenapa masalah-masalah ini semakin banyak
ditemui. Kalau sedikit dari pembaca ikut merefleksi dan melakukan
perubahan, dengan belajar kembali menempatkan proses-proses alamiah
pada tempatnya; dengan demikian menghargai Penciptanya, rasanya
kita akan dibantu menemukan solusi-solusinya... Mudah-mudahan.


|