Kaka anak berusia 4 tahun sedang berdiri diantara pecahan piring.
Ibunya menghampirinya karena kaget mendengar suara piring pecah
dari arah dapur. Begitu Ibunya datang Kaka bukannya mengaku
salah malah menyalahkan pengasuhnya. "Bukan Kaka yang salah
kok Bu, si Mbak tuh, naro piring kok di pinggir meja" katanya.
Lempar batu sembunyi tangan alias menimpakan kesalahan pada
orang lain, sering terjadi pada anak usia ini. Sekalipun kita
selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran kepadanya. Hingga, rasanya
kita tak percaya dan sedih melihat si kecil bisa melakukan perbuatan
manipulatif seperti itu. Akibatnya, kita pun was-was bila perilaku
itu akan menetap dalam diri anak.

Di tahap usia ini, si kecil mempunyai tahap perkembangan bahasa
yang masih terbatas. Kemampuan untuk menganalisa juga sangat
terbatas, termasuk menganalisa hal yang baik dan yang buruk.
Yang bisa ia lihat hanya dari sisi aku saja karena sikap egosentrisnya
masih sangat tinggi. Namun bisa jadi perbuatan manipulatifnya
lantaran ia belajar dari orang lain. Bukankah belajar yang paling
gampang adalah dengan meniru? Jika ia melihat orang terdekatnya,
entah itu ayah, ibu, kakak atau pengasuhnya suka bersikap manipulatif,
tentu tanpa disadari ia akan melakukan hal yang sama. Bagi anak
seusia itu, bukankan apa yang dilihatnya itu adalah yang benar?
Hal lain yang tak boleh dilupakan, bahwa anak belajar dari pengalaman.
Jika di rumahnya berlaku norma siapa saja yang salah patut dihukum
padahal hukuman itu tidak disukainya, maka cara mengelaknya
ada'ah dengan tindakan manipulatif tadi, semata agar terhindar
dari hukuman.

Tindakan manipulatif yang dilakukan anak juga bisa disebabkan
"ulah" orang tua yang tidak menghargai diri anak.
Sering kali orang tua lupa dengan selalu menyudutkan anak, mencari-cari
kesalahan anak, dan anak tak pernah/kurang diberi kesempatan
untuk mencoba segala hal. Anak pun pada dasarnya ingin dihargai.Karena
kerap merasa tidak dihargai atau dipojokkan inilah, maka salah
satu pertahanan dirinya adalah mencari kambing hitam atau memanipulasi
keadaan yang sebenarnya..Perbuatan manipulatif yang dilakukan
si anak di usia ini bukan dalam pengertian sebagaimana yang
dilakukan orang dewasa. Anak balita masih dalam tahap proses
belajar mengerti hal-hal baik dan buruk. Hingga kemampuannya
untuk berbohong pun sangat terbatas.

Sebelum mengubah anak, orang tua harus mengubah diri sendiri
dulu. Jadi, kita harus mengubah semua aktivitas kita yang cenderung
memojokkan sikecil. Dengan begitu, anak akhirnya akan betul-betul
merasa aman (tetap dicintai), hingga iapun berani untuk jujur
meski ia berbuat salah. Begitu pun bila ternyata kitalah sumber
peniruan anak, orang tua harus segera memperbaikinya. Misalnya
saja kalau kita salah, kita berani mengakuinya dan meminta maaf
pada anak. Dengan demikian anak belajar, "Oh kalau aku
salah enggak perlu aku tutup-tutupi. Aku tinggal minta maaf".
Tentu anakpun harus tahu, setelah Ibu minta maaf, Ibu berusaha
tidak pernah mengulangi kesalahannya lagi. Jangan malah melakukan
kesalahan sama dan minta maaf lagi. Kalau seperti itu, yang
akan diingat anak adalah ternyata minta maaf itu enggak ada
artinya.

Dalam memberi hukuman, kita juga harus introspeksi, sudahkah
pemberian hukuman yang kita lakukan itu wajar? Kalau gara-gara
ia memecahkan piring lantas dihukum dengan berdiam di kamar
seharian penuh, itu sama sekali tidak wajar. Bukankah tujuan
kita menghukum anak agar perbuatan yang dilakukannya tak terulang
lagi. Hukuman yang tidak wajar, membuat pesan kita tak sampai
ke anak dan anak pun akan bertanya -tanya, Apa salahku? Begitu
saja, kok dihukum berat begini. Maka yang diingat bukannya kesalahannya
dalam memecahkan piring, melainkan kekesalannya atas hukuman
harus masuk ke kamar.
Akan berbeda hasilnya bila mengajak sikecil untuk duduk bersama
dan mengajaknya bicara. Misalnya, "Jadi, Kaka enggak salah
ya? Yang salah si Mbak, karena menaruh piring terlalu ke pinggir.
Lho, kalau main bola di dapur itu apa enggak salah ? Bagaimana
kalau saat main bola, lalu bolanya melenting ke piring dan membuat
piringnya jatuh?" Dengan cara ini, si kecil akhirnya sadar
dan melihat permasalahan secara lebih luas.

Namun kita juga harus menunjukkan hal yang sebenarnya. Misalnya,
"Kalau Kaka main bola di dalam rumah, nanti akan kena perabotan.
Jadi lebih baik mainnya di halaman saja. Tapi kalau bolanya
hanya sekedar dipegang-pegang atau digelinding-gelindingkan
di karpet enggak ada TV-nya maupun perabotan lain, itu sih boleh."
Dengan demikian, anak sekaligus diajarkan untuk memandang permasalahan
bukan dari sudut akunya saja, tapi juga dari sudut orang lain.
Selain itu, dengan mengajaknya bicara, kitapun bisa berdialog
secara efektif. Hingga, anak akan merasa dihargai, diberi kesempatan
untuk bicara, merasa bebas boleh mengutarakan semuanya. Sekaligus
kita juga mendapat masukan banyak tentang diri anak. Kita jadi
bisa mengerti perasaan-perasaan si kecil.

Hal lain yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa anak
berhak untuk salah. Karena melalui kesalahan, ia akan belajar
lebih efektif. Sebaliknya, anak yang tak pernah diberi hak untuk
salah tak akan menjadikan kesalahan itu sebagai guru, tapi sebagai
sumber bencana yang harus ditutup-tutupi.
Yuyun Yunita, Agustus 2004