"Imagination is more important than knowledge.
Knowledge is limited. Imagination encircles the world."
Albert Einstein

 

Kita sering mendengar bahwa anak butuh berimajinasi untuk perkembangan dirinya di masa yang akan datang. Tapi apa manfaatnya kalau hanya untuk alasan itu? Bukankan dengan mengajak anak berimajinasi berarti membodohi dan membohongi anak? Mana ada penyihir dan peri di dunia ini? Mana ada Santa Claus yang membawa hadiah di malam Natal? Itu sih cuma pinter-pinternya orang dagang aja. Ah, kalau anak diajak berimajinasi nanti dia jadi suka melamun dan mikirin yang nggak-nggak. Daripada disuruh ngelamun dan mimpi mending disuruh belajar nulis atau les-les aja deh.

Yah, banyak orang yang berpendapat seperti itu. Saya pada awalnya berpikir bahwa anak diajak berimajinasi hanya supaya dia senang dan bisa melupakan sejenak beban apapun yang dibawa dalam dirinya. Tapi setelah beberapa lama saya mulai menyadari bahwa berimajinasi diperlukan bagi anak terutama anak usia dini (2-7 tahun), bahkan juga orang-orang yang sudah sudah dewasa.

Imajinasi tidak selalu tentang hal-hal yang tidak nyata. Tapi bisa juga tentang sesuatu yang ilmiah. Seorang anak berusia 3 tahun, apa yang dapat dimengerti olehnya? Dia tentu belum memahami benar konsep penjumlahan atau konsep bumi yang berputar. Tapi dia bisa diajak untuk memahaminya sedikit demi sedikit tanpa menggunakan penjelasan ilmiah yang terlalu rumit. Anak usia 2 atau 3 tahun mulai banyak ingin tahu dan bertanya tentang segala hal yang terjadi di sekitarnya. Penjelasan ilmiah tentang suatu kejadian seperti gelombang Tsunami dapat memusingkan bahkan untuk orang dewasa seperti kita ini. Cara termudah untuk menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi adalah dengan mengajaknya berimajinasi.

Bagaimana kita dapat menjelaskan tentang terjadinya gelombang Tsunami, misalnya. kepada anak usia 3-4 tahun? Sambil kita juga menyiapkan sebuah wadah air yang cukup lebar kita dapat menjelaskan bahwa di bawah laut ada tanah yang tiba-tiba bergerak dan tabrakan, dan kita andaikan kedua tangan kita sebagai tanah tersebut. "Lihat nih, airnya jadi gimana?" Dengan menggunakan sebaskom air kita sudah mengajaknya berimajinasi dan mengajaknya memahami peristiwa tersebut.

Imajinasi juga digunakan untuk menyimbolkan sesuatu. Santa Claus si pria gendut berbaju merah dan berjanggut putih, misalnya. Kita tahu cerita Santa Claus yang turun lewat perapian setiap malam Natal untuk membagikan hadiah kepada anak-anak. Anak-anak sangat menyukai hal ini, tanpa mereka mengetahui bahwa Santa hanya sebuah imajinasi belaka dan yang sebenarnya memberikan hadiah adalah orang tua mereka. Tapi mereka menyukai sosok Santa itu sendiri. Pada saatnya anak akan mengetahui bahwa Santa sebenarnya tidak ada dan yang memberikan hadiah selama ini adalah orang tua mereka sendiri. Tapi lewat sosok Santa ini kita dapat menanamkan dalam diri anak 'kenikmatan' memberi kepada orang lain. Pada akhirnya pada saat anak tersebut beranjak dewasa dia akan mengenang sosok Santa sebagai simbol kebaikan yang mengajarkannya untuk memberi kepada orang lain dan tidak selalu menerima. Sayangnya Santa Claus sekarang ini dimanfaatkan secara komersil di toko-toko untuk sekedar menarik pengunjung dan pembeli.

 

Imagination is the beginning of creation.

You imagine what you desire, you will what you imagine and at last you create what you will.

 

Pada awalnya kita mengajak anak untuk berimajinasi tentu saja dengan membacakan cerita atau menonton film yang memang imajinatif. Seperti dongeng tentang hutan dimana binatang-binatang yang ada di hutan dapat berkomunikasi seperti kita dan mengenakan pakaian juga. Melalui mereka, anak mengetahui bahwa binatang-binatang itu juga mempunyai perasaan. Contohnya film Pompoko dari Jepang. Di film ini diceritakan tentang kehidupan sekelompok rakun di hutan yang pada awalnya kadang berkelahi karena perebutan wilayah tapi pada akhirnya bersatu melawan manusia yang mulai menebangi hutannya untuk dibangun sebagai tempat tinggal. Walaupun pada akhirnya rakun-rakun ini tidak berdaya dan berusaha beradaptasi dengan kota yang mulai tumbuh ini, ada nilai yang bisa dipahami oleh anak. Salah satunya adalah rasa empati terhadap hewan. Dalam pikirannya dia akan berkata "Oh, gini perasaan binatang-binatang kalau diusir dari tempat tinggalnya." Tentu saja apa yang didapatnya dari buku atau film tidak lepas dari bimbingan orang tua.

Imajinasi anak seharusnya tanpa batas. Seorang dapat melihat suatu benda sederhana, seperti dus bekas, sambil membayangkan dan menggunakan dus tersebut menjadi kendaraan pesawat terbang, mobil atau kereta kencana. Bahkan dia dapat berimajinasi bahwa dus itu adalah sebuah roket untuk terbang ke planet lain. Bisa juga sebagai sebuah kotak ajaib, yang dari dalamnya bisa keluar peri, naga dan ksatria. Melalui imajinasinya, dia dapat menjadikan sebuah benda sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa.

Pada tingkat usia selanjutnya yaitu umur 6 tahun ke atas, seorang anak sudah mampu mengaitkan imajinasinya dengan kemampuan logika yang sudah semakin berkembang. Sebuah dus bekas untuk anak usia 6 tahun dapat digunakan menjadi kendaraan mobil. Dan dia akan berusaha membuatnya berroda dan dapat berjalan. Dia akan berusaha merancang dan membuat mobil sesuai keinginannya karena sudah didukung kemampuan motorik, logika serta pengetahuan yang dimilikinya.

 

All successful people men and women are big dreamers. They imagine what their future could be, ideal in every respect, and then they work every day toward their distant vision, that goal or purpose.

 

Ungkapan tersebut sangat sering didengar. Dan bila kita pahami artinya (semua orang sukses adalah seorang pemimpi besar. Mereka berimajinasi bagaimana masa depannya, ideal dalam segala hal, dan mereka bekerja setiap hari mendekati impiannya, tujuannya), memang benar seperti itu. Kalau tidak ada para pemimpi besar itu mungkinkah sekarang ini ada listrik, lampu, telepon atau kloning?


Claudine Patricia | Februari 2005