|

Yuyun Yunita | November 2004
Kalau bukan karena ajakan teman untuk membantu
di Studio Drawingnya, mungkin sampai saat ini saya tidak
eksis di dunia anak. Dan kalau temanku itu tidak pergi ke Singapore
yang kemudian menyerahkan tanggung jawab Studio Drawingnya ke saya,
sampai detik ini saya tidak peduli dengan dunia pendidikan anak.
Mungkin saya akan menyadarinya setelah nanti berkeluarga dan mempunyai
anak.

Banyak hal yang saya dapat ketika mengelola
sebuah Studio Drawing, dimana salah satu kegiatannya adalah
memberikan les gambar kepada anak-anak. Saya bertemu dengan berbagai
macam anak dari latar belakang keluarga yang berbeda pula. Setiap
hari saya menjadi asyik melihat perkembangan mereka. Dari yang malu-malu
tidak mau gabung dengan yang lain, tapi ternyata selalu merindukan
teman-temannya. Sampai anak yang selalu bercerita apapun yang dia
kerjakan setiap harinya. Saya mencoba untuk selalu dekat dengan
anak-anak, mencoba menjadi apapun yang anak suka. Di saat anak laki-laki
ingin bermain bola setelah menyelesaikan gambarnya, sayapun dengan
senang hati ikut menendang bola. Begitu juga ketika ada anak yang
ingin cerita karena kesal dengan setumpuk lesnya, bisa menjadi tempat
curhat. Mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan, memberikan
kebebasan yang terarah dan tetap mengacu pada program. Biar anak-anak
merasa betah, menjadikan kegiatan lesnya jadi suatu yang tidak menjadi
beban. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Karena merekalah saya menjadi terbuka seperti
apa dunia anak sekarang ini. Padahal saya pernah mempunyai keinginan
apabila di beri satu kesempatan untuk melompat ke mesin waktu, saya
ingin kembali ke masa kanak-kanak. Dimana saya bisa puas bermain,
tidak ada tuntutan ataupun beban seperti orang dewasa, membuat kenakalan-kenakalan
yang membuat ibu sewot. Mengasikkan sekali jika masa itu bisa terulang
kembali. Tapi setelah menyaksikan dan mendengar bagaimana kehidupan
anak-anak jaman sekarang. Dengan setumpuk tugas dari sekolah yang
dikejar deadline, belum lagi jadwal les berenang, bahasa Inggris,
Aritmatika, musik, gambar, calistung (=baca tulis hitung). Rasanya
semua itu membuat saya berpikir kembali kalau jadi anak di jaman
sekarang.

Sebegitu sibuknyakah anak sekarang ? Hari
Minggu pun masih ada jadwal mengikuti lomba. Kalau tidak mendapat
juara si Ibu kecewa karena merasa telah memberikan les yang mahal.
Ada beberapa Ibu pada acara lomba-lomba adalah mencari tahu dimana
tempat Sang Juara mengikuti les. Lalu pindah ke tempat les Sang
Juara tersebut berharap pada perlombaan berikutnya si anak bisa
mendapat piala juga. Berbondong-bondong pindah dari satu tempat
les ke tempat les lainnya dengan alasan tempat les yang dulu tidak
bagus karena si anak tidak pernah jadi juara. Benar-benar alasan
yang tidak jelas.

Ah
.betapa susahnya untuk jadi anak
jaman sekarang. Masih anak-anak sudah memikul beban yang cukup banyak.
Memang tidak semua anak seperti itu. Tapi mayoritas anak-anak dari
keluarga yang berkecukupan mengalami hal seperti itu. Akhirnya masih
anak-anak sudah mengalami stres. Wah
kan gawat sekali. Apakah
para orangtua tahu akan hal itu, atau tahu tapi pura-pura tidak
tahu karena demi mengejar target. Target supaya anaknya serba bisa,
serba unggul dengan alasan demi keberhasilan si anak di masa depan,
biar si anak punya kegiatan yang positif daripada di rumah cuma
main-main. Apakah pernah menanyakan pada si anak, "senangkah
si anak ikut les ini, les itu ?". Atau si anak malah tidak
di beri kesempatan untuk mengungkapkan ketidaksukaannya. Saya jadi
berharap seandainya nanti menjadi orangtua semoga saya dapat berbuat
bijak untuk anak saya kelak.
Bandung, 05 November 2004

|