Coba kita masih ingat jaman kita kecil dulu, betapa Ibu ada setiap saat mendampingi kita di rumah. Sambil Ibu memasak, sementara kedua tangan sibuk memotong dan mencuci sayur atau menggoreng ikan, tak henti mengalir dari mulut Ibu macam-macam cerita. Juga di saat Ibu duduk menjahitkan baju untuk kakak, atau sambil memandikan adik, pun saat duduk di sisi ranjang mengantar kita lelap kala malam menjelang. Kadang inisiatif murni datang dari Ibu, kadang itu merupakan respon Ibu terhadap lontaran pertanyaan, keluhan ataupun masalah kita, misalnya saja saat kita kakak-adik kepergok Ibu sedang berebut makanan atau mainan. Ceritanya bisa membawa muatan macam-macam, mulai dari nasihat, cerita fabel, legenda atau kisah nyata tentang perjalanan hidup Ibu. Yang terakhir bisa sangat panjang, kadang kita bengong dan merasa sulit mengikuti apalagi jika sudah bermunculan banyak nama dan silsilah super panjang keluarga besar. Tapi umumnya cerita Ibu begitu menarik, ringan, sekaligus bermakna dan meninggalkan kesan dalam.

 

Dongeng-dongeng yang disampaikan Ibu di keseharian kita sebagai bocah, ternyata masih erat melekat hingga kini di ingatan. Dari Ibulah kita pertama mengenal Malin Kundang, atau cerita si burung yang sangat cantik namun sombong, atau cerita tentang bagaimana Eyang mengungsi dan berjuang menyelamatkan keluarga dan anak-anaknya yang masih kecil saat perang berkobar. Lalu tanpa disadari dan bebas dari proses pemaksaan, bertumbuh di hati kesadaran akan nilai untuk hormat terhadap orangtua, nilai untuk tetap rendah hati tidak pongah, dan juga kecintaan terhadap anggota keluarga, juga makna perjuangan hidup. Lewat potongan-potongan dongeng yang sarat nilai-nilai positif itu, kita menguntai banyak sikap dan nilai yang lalu menjadikan diri kita apa adanya seperti sekarang ini : kita yang tangguh, kita yang tak mudah putus asa, kita yang peka dan berbelas asih. Dan kita bisa mengatakan Ibu dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya (relatif dalam hal materi, pergaulan dan tingkat pendidikan) mampu memanfaatkan kegiatan mendongeng sebagai salah satu media untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada anaknya. Dan itu adalah media yang efektif.

 

Lalu ketika hari berganti dan waktu terus bergulir tak kenal kompromi, tiba-tiba saja tanpa terlalu banyak disadari saat ini kita sendiri telah jadi seorang Ibu atau seorang Ayah bagi anak-anak kita. Mengikuti perkembangan jaman dan dihadapkan dengan faktor kebutuhan ekonomi atau aktualisasi diri, pola kehidupan keluarga (terutama di kota-kota besar) semakin bergeser ke double income family. Kini kian banyak Ibu yang melangkahkan kaki ke luar rumah meraih sukses sebagai wanita karir, entah karena keterpaksaan atau semata pilihan hidup. Lalu kita jadi berpikir, " Wah bagaimana mungkin kita bisa melestarikan tradisi mendongeng kepada anak-anak kita, kita ini tak punya cukup waktu lah…". Tengok saja padatnya kesibukan setiap orang dari kita dalam keluarga, ya kita sendiri dengan rutinitas kantor atau urusan tetek bengek rumah, ya juga anak-anak kita dengan setumpuk tinggi beban persekolahan yang benar-benar menyita habis energi dan waktu milik mereka.

 

Dari pagi anak sudah dibangunkan untuk siap ke sekolah, belum lagi kalau pas ada ulangan anak harus bangun di pagi buta untuk sekedar mengulang materi, takut hafalannya lupa karena terbawa tidur dan tertinggal di kasur. Pulang sekolah, "Eh anakku kan hari ini harus les renang, besok les musik, lusa kursus menggambar dan bahasa Inggris, dll, dll, dll". Jangan tanya kegiatan rutin les pelajaran yang diwajibkan orangtua untuk dijalani anak atas nama masa depan yang lebih baik : membekali anak biar bisa lebih siap, atau minimal bisa keep up dengan materi yang diberikan ibu guru di kelas, pokoknya biar ngga keteteran. Muka anak yang manyun atau kelelahan sepertinya sudah tak kasat di mata orangtua. Saat Ayah makan siang di kantor, sang anakpun bersantap bekal makan siang praktis di mobil dalam perjalanan menuju ke tempat les ini dan itu.

 

Lalu kita sekeluarga sepertinya terjebak, rasanya sama sekali tak berkesempatan untuk memilih kecuali pasrah menerima keadaan. Kita beranggapan ini semua adalah cost yang harus kita bayar untuk segala kenyamanan hidup yang kita nikmati. Setiap dari kita dari pagi hingga malam sibuk mengerjakan tugas kita masing-masing (suka rela maupun merasa terpaksa). Dan ketika kemudian waktu kumpul yang tersisa hanyalah sepenggal waktu di meja makan untuk ritual makan pagi (yang berlangsung dengan kecepatan tinggi) dan makan malam (yang dilakukan dalam kondisi 'stamina habis'), di luar kemauan dan kemampuan kitapun terseret semakin saling menjauh dan terjauhkan. Hubungan langsung antara orangtua dan anakpun kian melemah seiring kian menguatnya peran para mediator yaitu pengasuh atau baby sitter. Anak lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka dibanding dengan orangtuanya; fungsi dan peranan orangtua sedikit demi sedikit beralih dan dialihkan.

 

berikutnya >>