|

oleh : Dian Noviyanti
Bermain sambil belajar merupakan jargon abadi
dalam pendidikan usia dini. Setiap lembaga pendidikan pra-sekolah
kemudian memfasilitasi kegiatan ini melalui alat-alat bermain dan
waktu khusus untuk bermain. Dalam prakteknya, konsep bermain sambil
belajar masih sulit untuk berjalan beriringan. Saat seorang anak
masuk sekolah kita tidak akan merelakan mereka masuk sekolah hanya
untuk bermain tanpa capaian tertentu yang terkonsentrasi pada aspek
kognitif. Bermain seringkali dipandang sebagai kegiatan selingan
dan cenderung dianggap membuang waktu. Sebagai orang dewasa
yang telah melampaui masa kanak-kanak kita tetap belum bisa melihat
esensi bermain yang sebenarnya dan kontribusi positif dalam proses
perkembangan anak.
Tokoh pendidikan Friederich Wilhelm Froebel
(1782-1852) mendefinisikan; Play is what we do when we do whatever
we want to do. Secara garis besar dapat disimpulkan yang disebut
bermain adalah bila tidak mengikuti pola rutinitas tertentu dan
tidak untuk memenuhi tuntutan orang dewasa. Faktanya saat ini kegiatan
bermain kemudian disematkan dalam aktivitas pembelajaran, misalnya,
mendisain permainan yang bertujuan agar anak dapat mengenal huruf
atau angka, dsb. Pada dasarnya kita tidak pernah rela membiarkan
anak bermain secara natural. Menjadi pertanyaan mengapa bermain
secara natural menjadi demikian penting pada fase ini?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, berikut
ini beberapa fungsi alat bermain dan permainan bagi anak;
- Sebagai alat penenang (pacifier)
- Alat bantu untuk mengenal minat dan potensi
anak
- Membantu anak dalam melampiaskan perasaannya
(catharcist)
- Sarana ekspresi diri (identification)
- Mengembangkan daya imajinasi
- Menstimulasi aspek kemampuan dasar
- Kesempatan untuk bereksperimen dan eksplorasi
- Cara untuk mengenal dunia diluar dirinya
- Membangun kemampuan sosial
- Sarana menata diri
Kalau berbicara mengenai sesuatu yang natural
pasti ada yang tidak natural / artificial. Apa yang membedakan
kedua hal tersebut?
Bermain secara natural, esensinya adalah bermain yang sesuai dengan
natur anak dan harus mampu menjadi sarana mengekspresikan diri.
Seorang anak harus diberi kesempatan dalam mengekspresikan diri
secara tuntas dan total dalam bermain agar ia kemudian cukup siap
untuk belajar dan menerima segala sesuatu yang datang dari luar
dirinya. Pada saat bermain anak akan mengeluarkan dan membersihkan
segala sesuatu yang membebani diri (psikis) nya. Rasanya aneh bukan
membayangkan anak semuda ini telah menyimpan beban dalam dirinya?
Ya, karena perpindahan dari alam sebelumnya ke alam dunia membutuhkan
proses adaptasi pada diri anak yang tingkat penyesuaiannya berbeda
satu sama lain. Mereka perlu dibantu untuk mengingat kembali proses
perjalanan di alam sebelumnya yang berlanjut ke alam dunia ini,
sehingga mereka tidak kehilangan orientasi dalam kehidupannya kelak.
Bila tak terpenuhi, kelak sang anak akan tumbuh menjadi pribadi
yang mudah memberontak.
Constraint dari lingkungan sosial
juga menuntut anak menyiapkan diri untuk mengikuti budaya sekitarnya.
Membutuhkan waktu bagi anak yang pada awalnya berpikir secara universal
dan menyatu kemudan menjadi secular/terkotakkan. Tapi begitulah
natur dunia yang perlu dipahami dan dikenali perannya dalam proses
pengenalan diri. Bukankah semesta adalah citra Tuhan yang paling
nyata?
Kembali pada pengertian bermain secara natural tentu bukan dikategorikan
natural lagi bila bermain direkayasa apalagi diselipkan target tertentu.
Bermain secara natural juga berarti bermain dialam terbuka dengan
sentuhan alam yang masih murni dan bukannya dalam ruang ber-ac dipenuhi
mesin-mesin otomatis. Bermain secara natural adalah ketika seluruh
ke-indra-an mereka distimulasi dengan segala sesuatu yang riil dan
bernyawa. Saat telinga anak mendengar musik, bawa dan perdengarkan
suara musik yang asli bukannya melalui CD/tape-recorder,
saat sensori taktilnya menyentuh sesuatu, sentuhlah segala bahan
yang alami bukan bahan sintetis. saat ia hendak menggambar gunung
bawa ia kedaerah pegunungan dan bukannya sekedar meng-copy gambar
gunung dari papan tulis atau buku. Biarkan imajinasinya menuntun
ia dalam bermain, jangan lepaskan mereka dari dunia kanak-kanaknya
tanpa alat bermain. Pada saatnya mereka akan sampai pada suatu fase
dimana mereka memperoleh kesadaran tertentu tentang kehidupannya
yang nyata. Pengertian alat bermain disini adalah segala sesuatu
benda/material yang ada disekitarnya, baik berupa balok yang memang
kita siapkan atau dengan menggunakan kardus bekas, misalnya.
Tugas para pendidik disini adalah untuk mengamati
respon anak saat mengalami hal-hal baru dalam bermain, dalam berinteraksi
dengan lingkungan sekitarnya. Guru harus cermat menggali data dan
mengenali potensi diri anak sebagai langkah awal mengenal dirinya.
Bila anak diibaratkan benih, orangtua dan
guru harus menjadi petani yang bertugas menumbuh-kembangkan pohon
dirinya. Tentunya ada siklus yang harus dipahami, ada pola yang
harus diikuti dan karakteristik yang perlu dikenali dalam proses
tersebut. Perlu diingat bahwa setiap diri telah memiliki blue-print
masing-masing. Bukan kita yang menentukan ia akan menjadi pohon
apa, melainkan bagaimana agar si pohon dapat tumbuh.
Kita sangat menyadari spektrum anak sangat
luas, sangat spesifik dan unik. Sangat membutuhkan pendekatan individual
pada masing-masing anak. Apapun metoda yang kita berikan harus berpegang
pada 3 hal;
- Tanpa paksaan /drill; hal ini membuat
potensi art menjadi hancur dan bisa mengakibatkan stress
yang dapat menyebabkan saraf halus anak yang sedang tumbuh menjadi
terputus,
- Pemetaan rumah dan sekolah; pendidikan
harus menjadi sesuatu hal yang berkelanjutan. Data awal sang anak
sejak masih dirahim ibu, kebiasaan yang dilakukan dirumah, aturan
dari rumah harus menjadi materi pembelajaran yang berkesinambungan
dengan program sekolah,
- Rumah belajar; sekolah harus mampu menyediakan
kelas/ruang yang sesuai dengan preferences anak, sekolah
harus menjadi tempat bagi anak untuk mengeluarkan dan mengasah
potensi dirinya, menjadi rumah (yang dikategorikan dengan kenyamanan)
untuk belajar,
Aspek terpenting dalam tujuan pendidikan
insan adalah apabila pendidikan tersebut berhasil membangun kesadaran
seseorang untuk merenungi diri dan mengenali peran dirinya dalam
kehidupan. Adalah tidak mudah membuat seseorang menyadari fungsi
dirinya bila lingkungan disekitarnya tidak mendukung pencapaian
tersebut. Bila seorang pendidik tidak memiliki visi mengenali diri
tidak akan mungkin mampu melahirkan anak didik yang memiliki kesadaran
demikian tinggi. Setiap pendidik hendaknya mampu menghantar anak
untuk bahagia dalam kehidupannya, dan kebahagiaan sejati baru dapat
terwujud bila seseorang dapat menjalankan kodrat sesuai dengan untuk
apa ia dicipta. Selamat berjuang...
Dian Noviyanti, Jakarta, Feb7, 2006.
email : diannovi@yahoo.com
|