|
|

Alkisah, Raja Daud mengeluarkan maklumat
kepada para menterinya untuk membuatkan cincin yang memiliki keistimewaan;
bila hatinya sedang ditimpa kesusahan dengan melihat cincin tersebut
maka hatinya akan menjadi tenteram, cincin tersebut juga diharapkan
bisa menjadi pengendali dirinya bila sedang dilanda sukacita. Raja
Daud bersedia menukar kekayaan yang dimilikinya demi mendapat cincin
tersebut.Tentu saja para menteri berpikir keras mencari bahan pembuat
cincin yang punya keajaiban sebagaimana dipinta oleh Raja Daud.
Segala cincin yang pernah ada didunia ini tidak ada yang memiliki
keistimewaan seperti itu. Sulaiman, putra Raja Daud yang masih kanak-kanak
bertanya kepada para menteri perihal sebab wajah mereka tampak murung,
para menteri itupun menceritakan kesulitan mereka untuk dapat memenuhi
permintaan Raja Daud. Setelah jelas duduk perkaranya, Sulaiman berkata,"wahai
paman, buatkan saja cincin besi biasa dan ukirkan tulisan didalamnya;
ini semua akan berlalu
.". Dengan begitu Raja Daud akan
diingatkan bahwa tidak ada sesuatu yang abadi, seberat apapun persoalan
yang dihadapi pasti ada masanya, dimana itu semua akan berlalu.

Kisah diatas menjadi contoh bagaimana cara
Sulaiman dalam memecahkan suatu persoalan. Digambarkan saat para
menteri terjebak dengan persoalan bagaimana mencari bahan pembuat
cincin yang memiliki keajaiban tersebut -karena seumur hidup mereka
belum pernah mendengar dan melihat cincin ajaib seperti itu. Tapi
Sulaiman dengan kecerdasannya bisa melihat persoalan dari sudut
pandang lain, dia mampu berpikir dan bertindak beyond imagination.
Dia mengkreasi sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada. Hal ini
erat kaitannya dengan Berpikir kompleks yaitu saat dimana seseorang
dapat melihat suatu persoalan secara utuh, kemampuan dalam memaknai
suatu persoalan secara menyeluruh,tidak hanya terfokus pada unsur
sebab-akibat saja. Kemampuan berpikir kompleks ini kerap diistilahkan
juga dengan berpikir kreatif. Mengapa berpikir kompleks perlu dibangun
pada setiap individu? Karena akan terkait dengan kualitas hidup
seseorang, dimana kita akan memiliki kemampuan untuk melihat hidup
sebagai pendidikan yang berproses dan kita akan terus-menerus belajar
untuk merangkai sesuatu. Apa yang dirangkai? Tentu saja berbagai
informasi tentang diri kita yang diberitakan oleh Tuhan melalui
kehidupan yang menyentuh kita hari ini.

Kejadian disekitar kita hari ini banyak menunjukkan
bagaimana kita tidak terbiasa untuk berpikir kompleks. Misalnya
dalam rumah tangga seringkali yang terjadi interaksi diantara anggota
keluarga bersifat mekanistis. Mereka saling berhubungan dan berinteraksi
dipandu dengan kebutuhan-kebutuhan sesaat berdasar pada 2 alasan;
bertahan hidup dan reproduksi. Hari-hari dilalui dengan rutinitas;
mengantar anak sekolah, membayar iuran, arisan, rekreasi, bekerja
di kantor, ke tempat ibadah, dsb. Secara fisik terlihat adanya suatu
movement tapi semua dijalani karena kebiasaan semata dan
merasa memang demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya
dan disekitar kita. Tanpa sadar kita hanya mengimitasi pola kehidupan
yang kita tahu sejangkauan indera kita semata. Bahkan cara kita
memaknai segala sesuatu pun merupakan bentukan. Kita menikah karena
memang kebanyakan orang menikah pada usia tertentu dan dari setiap
pernikahan harusnya memiliki keturunan. Pernikahan bukan lagi ditujukan
sebagai sarana untuk mengenal cinta Tuhan. Begitu pula saat mendidik
anak, kebanyakan kita tidak paham bagaimana mendidik anak dengan
benar; hanya berkiblat pada kebiasaan kita saat dibesarkan orangtua,
atau mempraktekkan tips-tips, kiat-kiat praktis dari buku atau majalah.
Apalagi kalau sampai mendidik hanya berdasar insting atau naluri
keibuan, wah ga ada bedanya dengan hewan dong. Padahal yang membedakan
kita dengan hewan ya dengan memfungsikan akal kita. Kita lupa bahwa
dibalik interaksi demikian harusnya terbangun sesuatu yang lain,
yang lebih indah dan hakiki. Interaksi diantara dua insan harusnya
mampu membuat kita saling mengenali diri, sehingga tergali khazanah
tersembunyi yang ada pada setiap diri. Nah, disinilah pentingnya
kita memiliki kemampuan berpikir kompleks.

Sebenarnya apa akibatnya kalau kita tidak
memiliki kemampuan berpikir kompleks? Pertama, itu tadi, kita akan
menjalani kehidupan secara mekanistis, kemudian akan mudah terpuruk
dengan persoalan yang dihadapi, hal ini menjadi penyebab kita jadi
mudah berkeluh-kesah, gampang menilai keburukan orang lain, stress,
jenuh dengan kehidupan. Menjadi bertambah parah bila kita mencari
solusi itu semua dengan mencari sesuatu yang diluar diri kita, misal,
menyalahkan orang lain, atau karena jenuh kemudian pergi jalan-jalan,
atau mencari komunitas yang sesuai dengan hobi, dsb. Kita tidak
membiasakan diri dengan melihat kedalam diri kita sendiri, mencari
tahu kebutuhan mendasar yang pasti berbeda dan tidak bisa diseragamkan
dengan kebutuhan orang lain. Mencari sesuatu diluar dirinya ini
bisa dilihat, misalnya, ketika seseorang merasa tidak puas dengan
rumah tangganya, dia akan mudah bercerai atau mencari seseorang
yang lain. Kita tidak bisa melihat aspek pembelajaran yang mungkin
akan membuka khazanah keinsanannya dalam problem rumah tangga yang
dihadapi. Begitu pula dalam pendidikan anak, kita cenderung berpikir
"behaviorist", kalau anak dikasih a hasilnya a', kalau
anak tk belum bisa baca maka solusinya adalah memberi les tambahan,
kalau tidak bisa juga pertanda anaknya malas, kalau masih tidak
berhasil juga maka kita akan melabeli dengan ADD/ADHD, DYSLEXIA,
SLOW/LATE LEARNER, SPECIAL NEEDS, dsb. kita tidak terbiasa melihat
sesuatu dibalik aktivitas fisik yang ditunjukkan anak tersebut,
padahal bisa jadi memang anak tersebut belum mencapai tingkat kematangan
(maturation), bisa jadi dia adalah seorang anak yang filosofis
yang membutuhkan alasan saat kenapa ia harus belajar membaca, bisa
jadi dia tidak bisa kalau belajar dalam suasana yang penuh tekanan,
mungkin dia membutuhkan kedekatan emosional dengan gurunya, atau
bisa jadi dia lebih fokus pada pengembangan daya-bayang ruang (spatial)
atau melalui bahasa gambar. Belum lagi kalau kita bicara dimensi
jiwa, akan jauh lebih kompleks dan menuntut penghayatan spritual
yang tinggi dari orang dewasa disekitarnya. Ada teman yang merasa
kesal dan lelah dengan ulah bayi 1 tahunnya karena gemar sekali
memasukkan segala benda kedalam mulutnya. Secara teori, Freud bilang
usia tersebut termasuk dalam fase oral. Alasan lain, sebenarnya
kegemaran anak tersebut terkait dengan pencarian untuk menemukan
sesuatu yang pas (compatible) dengan dirinya. Bila seseorang
bertemu dengan hal yang pas, sesuai untuk dirinya, akan memudahkan
dia mengenali dirinya, mengenali kehendak Tuhan atas misi penciptaannya
ke muka bumi ini. Sehingga kita tidak mudah berprasangka buruk kepada
Tuhan atas kejadian yang secara jasadiah kita pandang menyakitkan.
Ada teman lain yang sibuk membuka buku saat anaknya bertanya banyak
hal, dari kejadian sehari-hari sampai asal-usul manusia. Padahal
tidak semua buku bisa memberikan jawaban yang tepat karena sangat
terkait dengan kondisi personal anak, sebagaimana tidak semua pengalaman
orangtua bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan anak. kalau jawabannya
tidak benar tentu akan mempengaruhi paradigma berpikir anak dalam
menghadapi kehidupan, warna pikiran kita akan termanifest dalam
setiap kata yang kita ucapkan dan gerak laku kita. Selain itu bisa
jadi anak pun tidak sekedar membutuhkan jawaban verbal, kita tidak
boleh terjebak dengan aspek luar semata atas pertanyaan yang terlontar.
Belajar peka dengan kondisi yang tengah dialaminya dan memahami
bahwa ada aspek dalam (jiwa) yang tengah berproses. Ketika seorang
anak bertanya sesungguhnya secara hakikat jawabannya ada dalam dirinya
sendiri, tugas kita adalah untuk membantu mereka mengeluarkan khazanah/perbendaharaan
dalam dirinya sendiri. Hal ini dikuatkan dengan pendapat PLATO (Theaetetus);
knowledge did not derive from such perceptions but was innate
and changeless, held latent in memory as essences, pure forms, or
ideas.

Berikut ini mungkin bisa menjadi insight
bagaimana agar kita dapat mendidik anak-anak kita berpikir kompleks;
1. Seorang pendidik harus memiliki semangat mencari ilmu yang tinggi,
mengkondisikan dirinya sebagai pembelajar, dan menjadikan kehidupan
sebagai sarana belajar
2. Memiliki konsep atau pemahaman bahwa tugas sebagai pendidik adalah
membantu, memfasilitasi anak agar mereka dapat "melahirkan"
khazanah dirinya
3. Mampu mendisain metoda pendidikan agar anak mencintai Tuhan.
Tentunya hal tersebut dapat dilakukan setelah melewati aspek perenungan
yang dalam dan membangun komunikasi yang intens dengan Tuhan
4. Melakukan pencatatan detail aktivitas anak yang akan menjadi
data awal untuk dapat mengenali diri
5. Peka melihat kebutuhan individual masing-masing anak, tidak bisa
menyamakan perlakuan kepada semua anak. Tidak bisa menggunakan kata-kata
disiplin untuk memfabrikasi mereka
6. Mampu melihat kelebihan setiap anak dan fokus hanya pada kelebihan
yang dimiliki masing-masing anak (termasuk isi raport tidak boleh
ada kata-kata yang menunjukkan anak belum mampu ini-itu, atau perlu
dilatih, perlu bimbingan, dan jargon keputus-asaan lainnya)
7. Tidak memperlakukan anak sebagai objek yang harus mengikuti apa
maunya kita
8. Tidak menempatkan diri kita sebagai sosok yang siap memberikan
penilaian dan tidak mengintervensi jawaban/pembicaraan anak
9. Menguasai milestone perkembangan anak
10. Membangun harmoni melalui seni yang artinya tidak meniru yang
terlihat; tetapi membuat sesuatu menjadi terlihat -Scott McCloud,
dan kedekatan dengan alam
11. Sampaikan dengan dongeng dan gambar (draw & tell),
topik petualangan dan perjuangan lebih bisa menggugah aspek dalam
(jiwa) anak. Topik yang baik akan memancing anak untuk melakukan.
Recollection; akan membantu dia untuk menggali pengetahuan
murni dalam dirinya. Seorang pendidik harus mampu "memainkan"
papan tulis melalui gambar yang dibuatnya. Dengan gambar akan terjadi
proses mental yang memungkinkan anak untuk menggabungkan peristiwa/cerita
dan menyusun realita yang utuh dan ajek dalam pikiran.
Semoga bermanfaat.
salam, Dian Noviyanti.
diannovi@yahoo.com
|