Pendidikan manusia: GNOTHI SE AUTHON
(sebuah catatan pendek)


Sudah merupakan nature manusia bahwa dalam proses menjalani kehidupan sesungguhnya adalah proses untuk belajar (from nothing to something); mengenal diri, semesta dan Pencipta.

Nabi Adam sejak mula diciptakan diajarkan langsung oleh Tuhan, begitupun anak dididik oleh orangtuanya untuk mengetahui semesta sekitarnya, bahkan hewanpun mengajari anak-anaknya untuk bertahan hidup. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah tujuan pengajaran atau pendidikan itu adalah sekedar untuk mempertahankan hidup belaka? Sekedar memenuhi tuntutan perut dan kesenangan badani?. Karena bila kita kritisi, segala metoda dalam sistim pendidikan kita berorientasi pada tuntutan industrialisasi, tanpa disadari kita telah menjadikan anak kita diperbudak oleh kehidupan, harus mampu memenuhi tuntutan dunia kerja. Sejak kecil anak telah didrill untuk menguasai berbagai hal yang belum tentu tepat bagi usia dan kematangannya.

Di jakarta, TK yang dianggap baik adalah yang menggunakan bhs.inggris sebagai pengantar - at least, bilingual. Bahkan anak-anak itupun turut pula merayakan kegiatan yang di Indonesia tidak familiar, misalnya, halloween party. Dan orangtua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit tersebut, dengan tujuan semoga dengan pendidikan yang lebih baik, mereka dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Menyedihkan sekali, apabila tujuan pendidikan hanya sekedar memperoleh keuntungan finansial semata.

Padahal Tuhan mengajarkan Adam tidak untuk menjadi nabi yang kaya, orang pada jaman purbapun tidak mengajarkan keahlian pada anaknya demi semata mendapatkan buruan atau makanan sebanyak-banyaknya, para orang suci jaman dahulu mengajarkan kebenaran pada murid-muridnya juga bukan bertujuan untuk mengharap keuntungan materiil.

So, sebenarnya apa tujuan pendidikan itu? pendidikan atau edukasi berasal dari bhs.yunani yaitu EDUCARE yang berarti membongkar yang didalam; bermakna bahwa setiap insan dilahirkan ke muka bumi dengan membawa potensi, bakat langit (SWABHAWA) masing-masing dengan tujuan mereka dapat beramal-karya sesuai dengan misi hidupnya (menjalankan SWADHARMA).

Untuk itulah edukasi dilakukan agar setiap diri dapat mengenal dirinya, mengingat kembali apa yang telah diembankan oleh Tuhan terhadap dirinya, bila insan telah mampu mengenali dirinya pertanda ia telah mengenali Tuhan, mengenali apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya. Kemuliaan insan sesungguhnya terletak pada kemampuannya dalam mengembalikan segala urusannya kepada Tuhan, pada saat ia mampu membangun komunikasi yang dalam, pribadi, terhadap Tuhan.

Karenanya pendidikan yang baik harus juga menyentuh aspek jiwa pada diri anak. seperti kita tahu bahwa insan terdiri dari 3 entitas; jasad, jiwa dan ruh. Segala memori tentang kedirian, Tuhan sematkan pada jiwa, jiwa pula yang akan menghadap Tuhan kelak dihari akhir.

Lalu bagaimana cara mendidik anak yang tepat agar jiwanyapun tumbuh dan dapat memberi informasi kepada raganya mengenai keadaan dirinya? (padahal kitapun sebagai orangtua atau guru masih belum mengenali jatinya diri sendiri);

  1. Niatkan bahwa amanah kita dalam mendidik anak adalah dengan tujuan untuk dapat mengenali penciptanya
  2. Sesuaikan metoda pembelajaran dengan usia, minat dan bakat
    (ingat setiap anak adalah unik)
  3. Sekolah dalam bhs.yunani berarti WAKTU LUANG, jadi segala sesuatu harus didisain sesuai kebutuhan mereka dan bertahap
  4. Ciptakan kondisi yang menyenangkan, sehingga tumbuh kecintaan anak terhadap apa yang ia kerjakan. Karena hanya bila seseorang bekerja dengan cinta, akan tumbuh kreatifitas
  5. Hindari suasana kompetitif, karena hanya akan membuat anak jadi egois. Kenali potensi dan kelebihan anak, sehingga mereka menyadari bahwa setiap insan dihargai karena keunikannya
  6. Selalu imbangi aktifitas mereka dengan kegiatan seni dan kedekatan dengan alam (nature). Biarkan mereka belajar tentang harmoni melalui desir angin yang meniup pepohonan, gemerisik rerumputan dan gemercik air yang mengalir
  7. Kembalikan mereka pada lingkungan terdekat. Kita harus ingat bahwa manusia diciptakan dalam lingkungan tertentu pasti memiliki maksud. Karena itu kenalkan mereka dengan keragaman budaya Indonesia, perdengarkan kepada mereka lagu-lagu daerah yang bertangga-nada slendro-pelog, alat musik (rampak kendang, gambang kromong, jegog tanjidor, vokal hoho dari nias, uning-uningan, rampai aceh -untuk menyebut beberapa) dan keterampilan kebudayaan. tidak hanya musik klasik yang mencerdaskan, tapi juga musik daerah. Hanya saja lagu daerah belum pernah diuji-coba. lagu klasik diuji-coba oleh masy. barat dan berhasil disana, belum tentu tepat untuk anak Indonesia
  8. Begitu dengan permainan tradisional, permainan rakyat
  9. ESTETIS (Estetika : red) adalah hal utama yang meliputi pembelajaran seorang insan terutama di fase pendidikan dasar.

Ini hanya beberapa point, yang mungkin bisa menjadi masukan bagi semua insan yang tidak pernah terlepas dari proses edukasi dalam proses kehidupannya. Tentunya dari tulisan ini, hanya sedikit yang bisa kita ungkap. masih banyak pekerjaan yang harus kita gali dan kembangkan. yang terpenting jangan kehilangan idealisme dan kecintaan terhadap persoalan pendidikan.

Mungkin hanya goresan kecil ini yang bisa kita lakukan untuk bangsa tercinta ini.

Tulisan ini hanya catatan pendek, dalam rangka pencarian akan diri...GNOTHI SE AUTHON.

 

salam kenal,
Dian noviyanti.
diannovi@yahoo.com

 

 

 

diterima di mailbox semipalar : 14 Mei 2005