 |
|
links & direktori
|
|
|
|

Rangkuman Singkat Diskusi yang dipandu oleh
Marissa Moeliono, rangkuman diskusi oleh Innocentia Ine
Apa sih emosi itu? Emosi adalah apa yang
dirasakan seperti rasa marah, takut, sedih, gembira, terharu..
Anak2 seperti juga orang dewasa juga mengalami perasaan2 tersebut.
Emosi tsb kemudian tampil / keluar dalam bentuk ekspresi seperti
murung, rewel, nangis, diam saja, agresi, banting2 barang
Sebagai orang tua, kita lebih sering bereaksi
terhadap ekspresi tampilan emosi si anak, jarang langsung pada emosinya.
Hal ini disebabkan karena memang emosi adalah sesuatu yang tidak
terlihat sehingga sulit untuk dimengerti, selain itu perbendaharaan
kata anak yang masih terbatas membuat mereka sulit untuk menjelaskan
perasaannya. Tapi menghadapi ekspresi saja tidak dapat menyelesaikan
masalah si anak. Diperlukan reaksi yang tepat untuk memahami dan
menerima emosi yang sedang dialami si anak sehingga tidak terus
tampil dalam bentuk ekspresi negatif.
Emosi ada karena individu berada dalam lingkungan
tertentu. Secara fisik, pusat emosi ada di amygdala (bagian
belakang bawah kepala). Pada bayi, emosi diawali dengan tanda-tanda
saat ia memperlihatkan rasa senang atau tidak senang, rasa ingin
tahu (heran/mikir). Pada anak usia prasekolah sudah emosi sudah
bertambah banyak seperti empati, malu, tersipu waktu berinteraksi
dengan orang lain (Beda ya malu dan tersipu itu. Kalo malu lebih
banyak ga enaknya, kalo tersipu itu malu2 tapi ada senangnya..).
Saat itu mereka mulai belajar strategi untuk mengelola perasaan.
Lalu kenapa secara ekstrim ada anak yang
sangat cuek, ada yang sangat peka dengan perasaannya? Hal ini banyak
disebabkan oleh pembawaan anak itu sendiri. Ada anak yang sejak
bayi memang sudah sangat sensitif. Biasanya ini terlihat dari fisiknya
yang juga menjadi sangat sensitif; kalau sakit sangat rewel dan
lama, mudah mual, pusing, gatal-gatal, sangat peka terhadap label,
renda atau kerah baju, dll. Ada hubungan antara otak ke sekresi
hormon. Apa yang terjadi di amygdala/emosi yang ia rasakan menimbulkan
reaksi yang membuat ia juga peka secara fisik. Tapi bila diterima
dan diolah dengan tepat, anak yang sensitif potensial untuk menjadi
sangat 'kaya'.
Emosi anak mirip dengan orang dewasa, tapi
cara berpikir anak-anak dan orang dewasa berbeda. Anak menafsirkan
peristiwa2 yang terjadi disekelilingnya dengan cara yang berbeda
dengan orang dewasa.
Beberapa contoh cara berpikir anak yang berpengaruh terhadap emosi:
- Anak belum mampu melihat hubungan sebab
akibat dari kejadian yang terjadi di luar dirinya; misalnya kalau
seorang ibu mendiamkan anak yang telah melakukan kesalahan (ditanya
anaknya diam saja,dengan maksud menghukum) padahal si anak belum
dapat mengkaitkan diamnya si ibu dengan kesalahan yang ia lakukan,
sehingga ia mengambil kesimpulan yang salah, bahwa si ibu tidak
suka kepada dia, dan menjadi luka dihati
- Anak menganggap bila sesuatu yang buruk
terjadi, hal itu merupakan hukuman atas kesalahannya. Hal ini
seringkali terjadi sebagai akibat dari pola pengasuhan yang suka
mengancam atau menakut-nakuti anak supaya menurut. Misalnya kalimat
yang sering terlontar untuk membuat anak menurut "awas ya,
kalau nakal nanti mama pergi!" saat si memang harus pergi
lama, si anak mengira itu adalah karena kesalahannya. Anak jadi
banyak menyalahkan dirinya kalau ada yang sakit atau ada barang
yang rusak, dan perasaan-perasaan bersalah ini sangat tidak sehat.
- Anak masih sulit membedakan antara kepentingan
diri sendiri dan kepentingan orang lain. Misalnya anak sering
kali minta dibelikan mainan, sementara orang tua merasa mainan
seperti itu sudah punya banyak, untuk apa beli lagi. Padahal buat
anak, mengoleksi sesuatu adalah menyenangkan, menimbulkan perasaan
tertentu dimana pemenuhannya memberi kepuasan, dan tidak dinilai
dari harganya. Misalnya koleksi sticker, pinsil, atau benda2 kecil
lainnya.
Selain cara berpikir yang berbeda, ada juga
hal-hal lain yang secara umum berpengaruh terhadap tampilan emosi
anak yang khas
- Anak banyak dibentuk menurut budaya yang
berlaku, mereka diharapkan untuk belajar menampilkan emosi secara
lebih terkendali, sehingga menurut hasil beberapa penelitian secara
umum anak laki-laki itu menjadi lebih mudah marah, lebih jarang
nangis, tidur lebih sedikit daripada anak perempuan, dan kurang
memperhatikan kehadiran orang dewasa dekat mereka.
- Anak yang dilalaikan (kurang diterima/
kehadirannya dirasakan sebagai beban oleh orang tua) secara umum
menunjukkan ciri-ciri: jarang menunjukkan rasa senang, jarang
ingin bermain dengan alat-alat permainan/sangat menolak atau sangat
terikat pada satu mainan/benda khusus (karena sebenarnya kebutuhannya
yang utama adalah kebutuhan untuk diterima, disayang, disentuh),
tidak terlalu peduli ribut atau takut kalau ditinggal ibunya (karena
merasa keberadaannya tidak berarti bagi ibunya), terlihat lebih
sedih, ekspresinya lebih datar daripada anak yang kehadirannya
diterima dan berarti bagi orang tuanya (karena pengasuhan dilakukan
secara 'datar' tanpa ekspresi, sehingga anak tidak belajar berekspresi)
Anak perlu belajar untuk:
- mengerti perbedaan antara mengalami perasaan
dengan mengekspresikannya supaya bisa bertingkah laku terkendali
- menyadari perasaan-perasaan negatifnya
- mengendalikan tingkah laku negatifnya
akibat perasaan negatifnya
- mencari jalan keluar dari perasaan negatifnya,
misalnya dengan membicarakannya dengan orang tua atau orang lain,
belajar mengekspresikannya secara visual (menuliskan atau menggambarkannya)
Orang tua perlu belajar untuk:
- Mengendalikan / mencari alternatif perilaku
negatif saat mengalami emosi negatif seperti membanting barang
atau pintu saat marah karena anak akan meniru perilaku tersebut
- Memperhatikan dan mencoba memahami emosi
yang dialami anak sehingga dapat bereaksi secara tepat terhadapnya;
Menerima / mengakui emosi yang sedang ia rasakan dengan menjelaskan
ttg emosi yang dirasakan, memberi istilah / makna dari emosi tsb
(ade sedih ya..), memeluk anak untuk meyakinkan bahwa dia boleh
merasakan emosi tersebut. Reaksi spontan orang tua seperti "ya
ade jangan marah dong..." atau "ade ga boleh malu dong..."
akan dirasa membingungkan buat anak, karena memang ia sedang merasa
marah/malu, kok ga boleh? Penting untuk anak agar merasa dimengerti,
bahwa emosi yang ia rasakan tidak ditolak atau ditiadakan. Setelah
ekspresinya mereda karena emosinya diterima, biasanya anak akan
lebih mudah untuk diajak bicara, mengenali apa yang ia rasakan,
bagaimana mengekspresikannya supaya lebih terkendali.
Penutup
Pertemuan kali ini dengan topik / tema yang
kami hadirkan sebagai satu langkah untuk menyamakan persepsi dan
wawasan mengenai cara membimbing anak. Diharapkan bahwa sedikit
banyak pertemuan ini dapat memberi masukan dan jawaban atas pertanyaan2
yang dihadapi orang tua dalam menghadapi emosi (utamanya yang negatif)
pada anak, seperti juga dengan kami sebagai pihak sekolah. Karena
cara yang sama dan langkah yang seiring antara rumah dan sekolah
niscaya akan membuahkan hasil yang lebih baik bagi anak-anak kita.
|