
Di
Indonesia sangat sukar berbicara tentang hewan-hewan yang dulu
lazim banyak terlihat berkeliaran di sekeliling kita. Ini dikarenakan
wabah flu-setan. Misalnya sapi, kambing, kelinci, domba,
dan banteng. Sebab, sapi sudah berubah menjadi
sapi perah; kambing menjadi kambing hitam; kelinci menjadi kelinci
percobaan.
Domba? Adu domba. Kalau banteng? Oh, banteng biasa sudah
langka, yang banyak banteng moncong putih. Indonesia mengalami metamorfosis menjadi animal
farm.
Negara kambing hitam
Hewan
paling favorit adalah kambing hitam. Kadang kala sangat menguntungkan bagi yang berkepentingan.
Contohnya kekacauan di animal farm kita sekarang.
Bayangkan,
seandainya di Indonesia ini tidak pernah terjadi tsunami Aceh,
tidak ada busung lapar, demam berdarah, polio, flu burung, dan
harga minyak bumi di pasaran internasional tidak mengamuk naik,
matilah kita karena kambing hitam tidak laku. Sebab,
siapa lagi yang mau disalahkan. Coba!
Kambing
hitam paling perkasa kini adalah Amerika Serikat, Eropa, dan
lain-lain. Awal-awal Orde Baru dulu, komunis
menjadi kambing hitam terbesar dan laku dijual. Kini
kalau ada bom meletus, mesti Amerika yang mau mengadu domba.
Negara-negara
ASEAN, seperti Vietnam,
Laos, Kamboja, dan Filipina senasib dengan Indonesia. Vietnam itu baru selesai perang. Namun, perangnya
itu bukan dengan Belanda yang mengirimkan KNIL, melainkan Amerika
Serikat yang mengirimkan B-52 dan bom napalm. Vietnam itu hancur luluh. Kini dia bangkit.
Pada SEA Games 2005, Vietnam menduduki
tempat ketiga. Lima tahun yang lalu Vietnam
sudah memiliki sarjana fisika bergelar PhD sebanyak 15.000 orang.
Bayangkan, fisikawan saja 15.000 orang, sedangkan sejarahnya diwarnai
penuh pergolakan. Sebentar lagi ia
menjadi singa ekonomi.
Hal lain
lagi, harga minyak pernah mencapai 70 dollar AS/barrel. Vietnam tidak punya minyak sama
sekali, tetapi tidak merengek-rengek seperti bangsa Indonesia dengan menipu bangsa sendiri.
Mereka tidak mencoba menyihir minyak bumi
menjadi kambing hitam. Namun, mereka berpikir, mengerahkan
segala daya upaya, mengatur taktik dan strategi berjangka panjang,
serta berpikir jauh ke depan. Tidak mencoba mencari jalan pintas dengan menunggang kambing hitam.
Apa yang dimiliki negara-negara ASEAN lain yang tidak kita
punyai? Penduduk Malaysia
itu sepertiganya Melayu, sepertiga lagi keturunan India,
selebihnya keturunan China.
Keturunan India
dan keturunan China
lebih besar jumlahnya dari Melayu. Mereka
itu rajin, hemat, suka menabung, dan kerja keras; mereka itu
yang membuat Malaysia
maju.
Kenapa kita miskin?
Kenapa
bangsa-bangsa ASEAN lain maju, sedangkan bangsa Indonesia itu miskin dan ketinggalan
dalam banyak hal?
Hal
ini banyak diperdebatkan oleh banyak ahli. Berbicara tentang soal ini tak habis-habisnya.
Singkatnya, beberapa ciri dapat dikemukakan sebagai prasyarat
kemajuan, antara lain:
1. Berpegang
pada prinsip-prinsip etika yang kuat;
2. Berdisiplin
tinggi;
3. Bertanggung
jawab (accountable);
4. Menghormati
hukum dan peraturan;
5. Menghargai
hak warga lain;
6. Senang bekerja
('Kerja itu Mulia);
7. Bekerja
keras untuk dapat menabung dan berinvestasi;
8. Berkemauan
untuk bertindak hebat;
9. Menghargai
waktu;
10. Betul-betul
memanfaatkan sains dan teknologi.
Ini
yang disebut sepuluh prasyarat untuk maju, sejahtera, dan kaya.
Sobirin
dkk (2005) mengatakan, bangsa Indonesia
itu miskin karena tidak memiliki sikap dan tidak memiliki kemauan
untuk melaksanakan serta mengajarkan prinsip-prinsip fungsional
dari masyarakat maju dan kaya.
Salah
satu sikap dan kebiasaan yang sangat perlu dipupuk sejak kecil
adalah kebiasaan menabung.
Kita lihat sewaktu krisis moneter menerpa
beberapa negara Asia di tahun 1997, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan cepat bangkit
kembali karena mereka punya tabungan yang besar.
Pada saat ini
cadangan devisa RRC sudah mencapai 769 miliar dollar AS, Hongkong
122 miliar; sementara Indonesia cuma 31,2 miliar (The
Economist, 10/12/2005). Negara-negara seperti RRC, India,
Korea Selatan, Jepang, Singapura, Taiwan, dan Hongkong semuanya
dicirikan oleh tabungan yang besar.
Bangsa Indonesia
itu boros, sangat boros, tidak suka menabung, complacent
(cepat puas diri dan menjadi lengah), suka menganggap semua
masalah itu enteng dan mudah (taking
things easy); hanya puas dengan formalitas saja (jika
ada masalah antara dua kelompok masyarakat, masalah tersebut
diselesaikan dengan acara yang sangat formal dan superfisial,
seperti menandatangani piagam bersama atau doa bersama tanpa
mencoba mengerti dan memecahkan masalah dasarnya).
Semasa Orde
Baru muncul sikap arogan dan berkeyakinan bahwa kita bangsa
super: paling beragama dan paling rukun; paling luhur budi pekertinya,
paling ramah, Tanah Air kita paling kaya, paling indah; UUD-45
itu adalah suatu masterpiece
(tanpa menyadari bahwa UUD-45 tidak lain dari jiplakan konstitusi
Belanda tahun 1814).
Langkah ke depan
Sekarang
kita terpuruk menjadi salah satu negara paling korup di dunia;
dikenal sebagai negara paling birokratik (in
the worse sense), pegawai pemerintahan hanya tabu memeras/minta
uang jasa saja; jiwa dan semangat melayani masyarakat tidak
ada pada birokrasi pemerintahan. Ini yang perlu dirombak secara total.
Dari jiwa pemeras menjadi jiwa pelayan masyarakat.
Pegawai negeri kita, terutama yang di atas, dikatakan paling
arogan dan manja (tas sekecil apa pun,
sampai ke kacamata saja harus dibawakan ajudannya), sementara
pemimpin negara-negara maju lain tidak berbuat seperti itu.
Padahal,
kita bukan apa-apa.
Ini diakui dulu. Namun, kita harus sadar
bahwa kita mempunyai banyak hal yang dapat membuat kita menjadi
barigsa yang mandiri, berdaya, dan jaya asal saja kita jujur
(kenal diri kita). Kita mempunyai tradisi dan budaya yang dapat dikembangkan.
Ketahuilah, kita mendiami suatu Tanah Air berupa suatu benua
maritim yang amat strategik. Benua maritim Indonesia
itu dicirikan oleh keanekaragaman yang amat besar, yakni bio-geo-ethno-socio-cultural diversity. Keanekaragaman
itu dapat dijadikan modal dan tempat berpijak awal untuk berkembang.
Jika itu yang
dikembangkan, Indonesia akan menjadi suatu pusat penelitian ilmiah dunia dalam ilmu-ilmu
pengetahuan alam. Itu yang dilakukan oleh
orang-orang Belanda, Jerman, Perancis, dan lain-lain.
Mereka meneliti kekhasan kepulauan Indonesia dan menjadi ilmuan
ternama, seperti Vening Meinesz, Umbgrove, Kuenen, Du Bois,
Weidenreich, Von Koeningswald, Eijkrnan, dan Wallace. Itu jauh
lebih besar nilainya dari sumber daya minyak, gas, dan batubara
karena sumber daya alam itu suatu waktu akan
habis.
Pengetahuan
yang dikembangkan untuk mengembangkan sumber daya alam itu tak
habis dipakai, bahkan semakin bertambah.
Itu, perbedaan antara sumber daya alam dan pengetahuan. Semakin banyak dipakai, pengetahuan itu kian berkembang, sumber daya
yang tak habis-habisnya.
Negara-negara
maju berteriak "sumber daya alam tidak penting lagi, yang
penting kemampuan teknologi'.
Sikap kita seharusnya sebagai berikut: Kita kembangkan teknologi
sambil kita kembangkan sumber daya alam dan lingkungan alam
yang ada di sekitar kita secara optimum. Jangan sekali-kali kita berkata, "sumber daya alam tidak penting
lagi". Jangan sekali-kali! Bersyukurlah
bahwa kita masih punya sumber daya alam yang "sedikit"
itu.
Kita harus
tahu dengan sebenar-benarnya apa yang
kita miliki, apa yang tidak kita miliki. Itu
perlu pengetahuan, perlu sains, dan perlu teknologi.
Kita harus belajar menjadi anggota masyarakat
dunia karena kita hidup di Bumi.
Kita
harus insaf. Abad
ke-21 ini sarat dan kental dengan sains dan teknologi.
Masyarakat manusia memasuki kultur
abad ke-21 di mana muncul modal dan industri virtual (maya);
reduksionisme digantikan oleh sinergisme yang tinggi; fraktal
dan kompleksitas menggantikan pikiran-pikiran yang linier dan
geometrikal. Perubahan itu tidak menunggu
kita.
MT ZEN
Guru Besar
ITB
Kompas, 31
Desember 2005


