Oleh: Idi Subandy Ibrahim
KEBUDAYAAN
sebuah bangsa tidak pernah statis. Ia senantiasa dinamis dan
beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat.
Adakalanya ia memengaruhi, juga sebaliknya,
dipengaruhi masyarakatnya. Kebudayaan mengalir
dalam gerak saling-pengaruh yang tanpa akhir dalam denyut nadi
kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar, bahkan
ia bisa menjadi gelombang besar yang
memengaruhi kesadaran dan laku kita. Kalau
kini orang berbicara tentang krisis masyarakat yang mendalam,
bukankah ia juga berbicara tentang krisis
budaya, krisis nilai, krisis kehidupan itu sendiri....
Lantas,
60 tahun setelah kita merdeka adakah capai-capaian budaya membanggakan
yang kita raih?
Ataukah malah krisis budaya benar-benar telah
mengempaskan kita ke keterpurukan ekonomi dan ke ketertinggalan
kematangan sosial politik yang amat memilukan?
Selama
ini budaya atau kebudayaan terlalu sering dibicarakan dalam tema-tema
besar yang serbaabstrak.
Seperti dalam pidato-pidato kebudayaan yang
menuntut refleksi yang dalam dan kecerdasan nalar-logika yang
rumit. Tentu saja ruang-ruang perenungan
budaya seperti ini penting.
Tapi,
sesungguhnya untuk saat ini yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana
kita memandang budaya dengan sederhana. Budaya kita lihat saja dalam kecenderungan
sikap, laku, tindak, dan tutur kata kita sehari-hari yang amat
kasat mata. Katakanlah, mengikuti istilah
pemikir budaya mutakhir, sebagai budaya kehidupan sehari-hari
(culture of everyday life).
Pemikiran
kritis
Hingga
kini begitu banyak pemikiran kritis yang lahir dari perenungan
yang dalam dan tulus untuk berbicara tentang budaya dan masyarakat
Indonesia. Pandangan
itu sering sangat kritis terhadap budaya dominan, sehingga tak
jarang cukup mencerahkan. Sayang, setelah
pemikiran itu dilontarkan, lantas disambut dan diperdebatkan dengan
hangat, kemudian dilupakan begitu saja, seakan lenyap ditelan
arus sejarah.
Sebutlah
beberapa saja.
Tahun 70-an Mochtar Lubis misalnya sudah
berbicara sangat keras tentang wajah tak keruan manusia Indonesia. Dengan wajah muram manusia
Indonesia
yang ciri-ciri pribadinya berkeping-keping (munafik, feodal, percaya
tahayul, punya watak yang lemah, dan cenderung boros), Mochtar
Lubis khawatir bangsa kita akan tertinggal
jauh, dan lebih celaka lagi akan jadi korban dalam percaturan
dunia.
Tak
heran kalau Koentjaraningrat mengingatkan tentang perlunya perubahan
mentalitas masyarakat Indonesia
agar bisa menjadi bangsa yang maju. Dan, Umar Kayam tak bosan berbicara
tentang pentingnya transformasi budaya kita untuk menyingkirkan
budaya feodal dan birokratis dalam laku elite politik (pegawai
negeri dan politisi) dan masyarakat umum.
Sementara
itu, Taufik Abdullah memperkenalkan sebuah rumusan yang bagus
menyangkut kemiskinan budaya wacana elite politik, yang disebutnya
"spiral kebodohan yang menukik ke bawah". Kebodohan yang dibalas dengan kebodohan akan melahirkan kebodohan baru. Bukankah pernyataan bodoh seorang
elite politik yang ditanggapi dengan pernyataan bodoh pula oleh
elite politik yang lain, begitu sering
kita saksikan di media. Pernyataan itu hanya
melahirkan kebodohan baru. Akhirnya menciptakan
semacam spiral kebodohan yang terus menukik ke bawah.
Lebih
dalam lagi Soedjatmoko mengingatkan tentang ancaman kemanusiaan,
berupa kemiskinan, ledakan penduduk, degradasi lingkungan global
yang dampaknya akan dirasakan bangsa
Indonesia
di abad ke-21. Ia juga menyebut munculnya fenomena "masyarakat
stres", "masyarakat sakit", yang ditandai oleh
sakit mental, kekerasan, dan penyalahgunaan obat dan kenakalan
remaja. Maka tak heran kalau Soetardji Calzoum Bachri mengajak
bangsa kita dengan lantang: "Wahai bangsaku/ Keluarlah engkau
dari kamus kehancuran ini/ Cari kata/ Temukan ucapan/ Sebagaimana
dulu para pemuda menemukan kata dalam sumpah mereka." Senada
dengan Sartono Kartodirdjo yang mengumandangkan tentang pentingnya
kesadaran sejarah dalam proses pendidikan bangsa. Dan,
Kuntowijoyo mengajukan pentingnya transendensi dan humanisasi
untuk melawan politisisasi, sekularisasi, dan komersialisasi budaya.
Persoalan
krusial dan skenario ke depan
Apa yang menjadi imbauan atau
bahkan kekhawatiran para pemikir budaya tersebut tak lain adalah
implikasi dari adanya arus besar yang memengaruhi kehidupan dan
membentuk budaya masyarakat mutakhir. Di satu sisi, ia
bersumber dari dalam, berupa feodalisme dan di sisi lain, ia datang
dari luar, dari konsekuensi-konsekuensi globalisasi dan transnasionalisasi
nilai-nilai yang datang dari seluruh sudut dunia via media massa.
Atau, baik itu dari gejala sekularisme yang merembesi segenap
ranah-ranah religiusitas manusia modern, sehingga dianggap sebagai
ancaman bagi nilai-nilai-agama tradisional maupun dari nilai kapitalisme
masyarakat konsumen yang menyebabkan berlangsungnya proses komodifikasi
semua ranah kehidupan.
Nilai-nilai
ini dipandang ikut membentuk selera, laku, dan bahkan kesadaran
kita. Kini nilai-nilai
ini terus meresap, menjadi semacam kekuatan budaya yang membentuk
bawah-sadar kehidupan manusia modern. Mulai dari cara
kita memilih letak rumah, jenis kendaraan, merek busana, tempat
hiburan, acara TV, figur anutan, penggunaan uang yang kita peroleh,
pemanfaatan waktu luang, hingga cara kita bercinta dan menjalani
serta memandang kehidupan sehari-hari. Semuanya tak lain
dari adanya konstruksi nilai dan budaya yang membentuk kesadaran
kita.
Di
tengah kepungan nilai-nilai itu, bangsa kita justru berhadapan
dengan masalah besar dan krusial yang menghadang. Persoalan kemiskinan, penyakit (biologis, psikologis,
dan sosial), kebodohan, kekerasan, ketidakpedulian (I don't
care!), pencemaran lingkungan, masih menjadi persoalan keseharian
yang kasat mata yang masih memerlukan tidak hanya pemikiran budaya,
tapi juga laku budaya sehar-hari yang lebih mampu membebaskan
dan memberdayakan kita dari berbagai krisis sosial, ekonomi, politik
yang mengimpit. Laku dan kesadaran budaya yang beberapa di antaranya
akan disorot di bawah ini perlu segera
dikembangkan untuk melawan kecenderungan laku budaya dominan yang
seakan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.
Kita
sebut saja budaya itu sebagai "10 Sikap dan Kesadaran Budaya
Negatif" yang harus disingkirkan dengan membangun "10
Sikap dan Kesadaran Budaya Positif" yang menjadi budaya alternatif
yang harus terus dipupuk di rumah, di sekolah, di tempat kerja,
di tempat ibadah, di jalan-jalan, dan di semua ruang kehidupan
sehari-hari.
Pertama,
budaya feodal lawan budaya egaliter.
Budaya feodalisme yang menghambat
kemajuan harus dilawan dengan sikap dan kesadaran budaya egaliter.
Sikap egaliter menempatkan manusia pada posisi
setara, tanpa memandang status yang diperoleh karena keturunan,
kekayaan, jabatan, pendidikan, suku, ras, atau agama. Sikap
hidup yang memandang semua orang sama akan menjadi budaya pendukung nilai-nilai demokrasi dan
semangat masyarakat madani. Kita harus mengembangkan
pendidikan budaya sejak dini kepada anak-anak agar tumbuh sikap
budaya egaliter yang menghargai sesama manusia.
Kedua,
budaya instan lawan budaya kerja keras.
Budaya instan yang mengganggap
bahwa bahagia, kekayaan, sukses, dan prestasi bisa diraih seperti
membalik telapak tangan, juga harus dilawan dengan budaya yang
memandang bahwa semua itu harus diraih dengan keringat dan air
mata. Budaya-budaya yang menggampangkan penyelesaian persoalan
dengan cara potong kompas dalam kehidupan
sehari-hari mesti dilawan dengan cara-cara yang lebih beradab.
Prestasi yang diraih dengan kerja keras harus
diberi penghargaan secara layak dan harus diciptakan mekanisme
penilaian untuk orang-orang yang meraih prestasi dengan kerja
keras. Kita harus menanamkan pendidikan
budaya yang memberi pengertian kepada anak-anak agar korupsi,
perilaku tidak jujur, komersialisasi jabatan, sampai jual beli
gelar aspal, plagiat, atau mencontek adalah contoh budaya instan
yang tidak layak diberi tempat dalam masyarakat. Karena
kita hanya menghargai orang yang bekerja keras.
Ketiga,
budaya kulit lawan budaya isi.
Budaya kulit atau tampilan luar
dalam kehidupan memang penting. Untuk menjaga citra diri
atau image seseorang, banyak cara
yang bisa ditempuh. Ada orang yang memamerkan kekayaan, ada yang menunjukkan kepintaran,
ada juga yang unjuk kekuatan dan kekuasaan. Show
kemewahan sudah menjadi bagian dari gaya
hidup kaum aristokrat sejak dulu. Sekarang banyak
orang kaya baru (OKB) yang tidak malu-malu menunjukkan dirinya
kaya dan saleh. Untuk itu, orang menggunakan simbol-simbol
kesuksesan dan kesalehan dengan berbagai cara.
Persoalan muncul kalau orang biasa memakai topeng
kulit seperti itu. Pasalnya iklan dan
sinetron tak hentinya mengajarkan bahwa budaya kulit lebih hebat
dari budaya isi.
Kita
ingin menanamkan kepada anak-anak sejak dini bahwa budaya isi,
substansi jauh lebih penting dari budaya kulit. Bukan kita iri atau cemburu dengan
orang sukses dan kaya. Bukan! Kita ingin
agar kekayaan dan kesuksesan mereka lebih bermakna bagi kehidupan
banyak orang. Kita merindukan kesejahteraan
yang lebih merata. Kita ingin mengetuk kesadaran orang yang gandrung budaya kulit agar
mulai menyelami budaya isi, untuk menyelami hakikat kehidupan
itu sendiri.
Keempat,
budaya penampilan lawan budaya hidup sederhana.
Budaya penampilan,
asal kelihatan keren, kece, dan hebat, juga menjadi bagian
dari kehidupan kita. Tak banyak orang
sekarang yang mau dan berani tampil lebih sederhana dari penghasilannya.
Bahkan tak jarang orang sudah menghabiskan penghasilannya sebelum
penghasilan itu menjadi haknya. Kita menyebut budaya kredit
dan budaya utang kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita bahkan sudah menjadi
darah daging dan daya hidup pemerintah kita (ingat utang luar
negeri!).
Kita
akan sulit atau mungkin terasing di tengah-tengah tetangga,
keluarga atau kolega kalau kita berpenampilan sederhana. Kebersahajaan
--sebagai pilihan sikap dan gaya
hidup alternatif-- menjadi barang langka atau bahkan semacam kemewahan
tak terjangkau di tengah hutan lebat gemerlap gaya
hidup. Di kantor, pakaian Anda yang dinilai
tidak modis dan stylist akan dikomentari, "Masak dari
dulu hanya pakai yang itu-itu." Kamu tidak akan
kelihatan sukses dan membanggakan keluarga kalau kamu tidak mengenderai
kendaraan terkini. Kamu akan lebih keren kalau kamu memakai HP keluaran mutakhir, model
anu dengan penampilan gress. Ongkos penampilanmu akan
terus menyedot sakumu.
Setiap
hari anak-anak kita dikhotbahi oleh pesan-pesan iklan dan sinetron
padat gaya
hidup agar mereka memuja budaya penampilan. Di masa depan kita
ingin agar anak-anak kita menjadi lebih sederhana dari kita, sekalipun
kita tetap berusaha agar mereka jauh lebih sukses dan bahagia
dari kita.
Kelima,
budaya boros lawan budaya hemat.
Budaya kulit atau budaya penampilan
jelas telah menjadikan budaya boros begitu telanjang di pelupuk
mata. Kita jarang berpikir jangan-jangan perilaku dan gaya hidup serbaboros
sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Cobalah simak di kantor, di jalan, atau di rumah kita. Bagaimana
kita menggunakan listrik, air, atau pulsa telefon (khususnya HP).
Kalau dulu orang tua memberi anak uang bisa ditabung atau dibelikan
emas. Sekarang begitu banyak orang tua
yang menganggarkan uang pulsa bulanan buat si buah hatinya.
Di zaman teknologi komunikasi serbacanggih, budaya ngerumpi
dan omongan remeh-temeh bisa menghamburkan uang ratusan ribu bahkan
jutaan perbulan.
Mulai
sekarang kita harus menanamkan kesadaran di kalangan anak muda
bahwa budaya hemat adalah bagian dari perilaku hidup sehat dan
beradab yang harus dikembangkan.
Kepada generasi muda, misalnya, perlu kita sebarkan ungkapan,
"Save water and electricity!" atau "Hemat
air dan listrik demi generasi mendatang!".
Bila perlu harus kita pasang di pintu-pintu
rumah kita. Kita harus berpikir bahwa
masih banyak orang yang belum memperoleh penerangan yang layak
dan air bersih yang wajar sebagaimana yang kita nikmati.
Masih banyak bencana kekeringan dan kelaparan yang menyebabkan nestapa
kemanusiaan. Kita ingin budaya hidup
hemat menjadi pesan kemanusiaan yang bermakna bagi generasi mendatang.
Seruan lirih Mahatma Gandhi terdengar pas, "Earth provides
enough for everyone's need, but not for everyman's greed."
Keenam,
budaya apati lawan budaya empati.
Dengan kesadaran demikian pula kita
ingin membuat sikap masa bodoh atau apati yang membuat kita menutup
mata terhadap persoalan di sekitar kita segera diganti oleh tumbuhnya
generasi yang berkesadaran empatik. Budaya empatik menumbuhkan
kepedulian dan kesadaran untuk mendengar terhadap keluhan orang
lain atau penderitaan sesama. Generasi
empatik adalah generasi yang bisa hidup dalam semangat untuk memberi
kepada yang tidak mampu dan menyuarakan persoalan publik serta
membebaskan yang tertindas. Kita ingin menumbuhkan budaya empati justru di tengah-tengah sikap
masa bodoh atau ketidakpedulian yang sering mewarnai budaya kita
sehari-hari.
Ketujuh,
budaya konsumtif lawan budaya produktif.
Budaya yang hanya bisa memakai,
menghabiskan waktu dan uang yang tak bermanfaat, harus dilawan
dengan budaya yang lebih memberikan hal-hal yang bermanfaat dalam
kehidupan. Kalau sekarang kita hanya menjadi masyarakat
pemakai (pemakai barang produk luar negeri, konsumen pemikiran,
dan gaya hidup asing), di masa depan konstruksi
budaya yang paling berat dan krusial adalah bagaimana membuat
bangsa ini menjadi bangsa yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
bagi kehidupan dan kemanusiaan. Tantangan pendidikan
kita adalah bagaimana menjadikan generasi konsumtif berubah menjadi
generasi produktif. Generasi yang tidak hanya menjadi pengguna atau konsumen, tapi menjadi
produsen bagi bangsanya bahkan bagi luar negeri. Ini tidak boleh tidak memerlukan semacam revolusi kesadaran yang menuntut
pendidikan sumber daya manusia yang sistematis dan terprogram.
Kedelapan,
budaya bersih lawan budaya sampah.
Sampah akan menjadi persoalan
urban yang pelik kalau kita tidak mencari solusi yang lebih terpadu
dalam pembangunan dan penataan kota
di masa depan. Kita sekarang hidup dalam "masyarakat
serba membuang"; beli, pakai sekali, setelah itu buang.
Untuk itu kita harus menanamkan budaya bersih sejak dini dalam lingkungan
keluarga, tetangga, masyarakat luas, terutama di pasar dan pertokoan,
perkantoran, terminal, stasiun, pelabuhan dan lapangan terbang,
jalan-jalan dan fasilitas umum harus memperhatikan masalah penanganan
sampah secara serius. Budaya membuang
sampah sembarangan harus mendapatkan ganjaran yang keras kalau
perlu jerat hukum. Dan, kebiasaan membuang sampah pada tempat yang disediakan secara
khusus sudah harus ditanamkan sejak dini hingga di masa kanak-kanak,
di ruang keluarga Indonesia.
Ingatlah sampah akan menjadi ancaman
serius karena bukankah setiap orang menghasilkan sampah?
Kesembilan,
budaya antre lawan budaya terabas.
Kebiasaan antre juga harus dikampanyekan
dan dimasyarakatkan di tempat-tempat milik publik. Kita harus menjadi bangsa yang beradab, jangan asal terabas.
Budaya terabas menyebabkan munculnya korupsi
dan membuat kita tidak sabaran di jalan. Budaya antre menghargai
keteraturan yang tidak dipaksakan, tapi tumbuh dari kesadaran
penghargaan terhadap orang lain. Kita hanya mendahulukan orang tua, orang sakit, atau orang hamil.
Kita harus mempraktikkan kepada anak-anak sejak
dini tentang pentingnya budaya antre dalam masyarakat sibuk seperti
sekarang ini.
Kesepuluh,
budaya kompetisi lawan budaya kerja sama.
Kita
perlu berkompetisi, asal kompetisi itu sehat dan fair, karena
kita ingin yang terbaiklah yang muncul sebagai pemimpin atau pemenang.
Kita harus menanamkan budaya menerima kekalahan secara fair dan
menghargai prestasi orang lain agar kehidupan berjalan sehat. Ini baik
dalam pendidikan, juga dalam demokrasi. Kalau kita sulit
membangun budaya kompetisi, kita harus mulai berpikir bagaimana
membangun budaya kerja sama. Kita sudah lama larut dalam klik-klik
kepentingan picik golongan, bahkan kita sudah jauh masuk dalam
keretakan kehidupan kebangsaan, dan melemahnya kohesivitas sosial.
Kita ingin budaya kerja sama hidup kembali
di kalangan anak-anak muda dan generasi yang akan datang. Bukankah
persoalan kemanusiaan dan kebangsaan yang pelik hanya bisa dipecahkan
bersama. Kita hanya bisa menghilangkan sikap individualis,
egoistik, dan merasa benar sendiri, bila kita terbiasa bekerja
sama, karena kita akan semakin rendah
hati menerima berbagai kemungkinan dari orang lain yang berbeda
dari kita.
Akhirnya,
kita harus membuat skenario budaya ini agar bisa berjalan dari
hal-hal kecil kehidupan kita sehari-hari. Kita ingin generasi di masa datang
berubah wajah dari generasi yang serba dipolitisasi dan dikomersialkan
menjadi generasi yang lebih beradab, civilized generation.
Karena itu kita harus merancang desain budaya dan kesadaran masyarakat
kita dari politicized and commercialized society menjadi
civilized society. Saya yakin kalau kita mulai menjalankan salah satu saja dari "10
Sikap dan Kesadaran Budaya Positif" tersebut, kita mulai
ikut meretas jalan untuk membangun masyarakat lebih beradab.
Jalan memang masih panjang dan berliku. Tapi, bukankah seperti
senandung dari lirik lagu Lionel Richie, "We can save
the world if we try...."***
Penulis, Konsultan komunikasi dan peneliti media
serta kebudayaan pop.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/17/khazanah/lainnya01.htm