|

Dunia
pendidikan sesungguhnya dipenuhi berbagai kebhinekaan. Sebab, tidak
ada siswa yang punya daya tangkap, daya serap, daya pikir dan daya
kecerdasan yang sama antara satu siswa dengan siswa lainnya dalam
sebuah kelas atau sekolah. Untuk itu, cara mendidik pun sesungguhnya
berbeda-beda tergantung tingkat kecerdasan masing-masing siswa.
Namun yang terjadi selama ini adalah keseragaman tata cara pendidikan
di setiap sekolah, seakan-akan semua siswa punya karakteristik yang
seragam. Padahal, karakteristik setiap siswa itu amat berbeda, sehingga
cara mengajarnya pun menjadi beragam. Bagaimana sebenarnya pendidikan
yang berbhineka itu?
============
Dr. I Made Candiasa, M.I.Komp., dekan FPTK IKIP Negeri Singaraja,
dalam sebuah orasi untuk perkenalan menjadi guru besar di kampusnya
awal pekan ini mengungkapkan karakteristik siswa dalam sebuah kelas
atau sekolah itu sangat beragam. Sehingga saat melakukan proses
belajar-mengajar, setiap siswa sebaiknya menerima perlakuan individu
dengan pendekatan yang berbeda-beda antara satu siswa dengan siswa
lainnya.
Untuk itu, Candiasa yang lahir di Banjar Penasan, Klungkung 30 Juni
1960 ini menawarkan model pembelajaran yang khas dalam keberbhinekaan
pendidikan. Model ini mencoba mengakomodasi perbedaan karakteristik
peserta didik, agar mampu beradaptasi dengan kondisi peserta didik
yang beragam.
Dosen yang juga ahli di bidang matematika ini memaparkan peserta
didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan harus diakomodasi
dalam pembelajaran, agar diperoleh hasil belajar yang optimal. Psikologi
dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel
yang mengindikasikan perbedaan individu dan mempengaruhi proses
belajar, seperti kecerdasan, keberbakatan, gaya kognitif, gaya berpikir,
daya adopsi, ketahan-malangan, dan kemampuan awal.
Soal kecerdasan sudah sejak lama menjadi bahan pertimbangan dalam
pembelajaran. Menurut Candiasa, teori faktor tunggal dari Binet-Simon
mendeskripsikan kecerdasan dalam satu skor umum tunggal (overall
single score) yang disebut intelligence quotient (IQ), sedangkan
Spearman dengan teori dua faktor mendeskripsikan kecerdasan menjadi
dua faktor kemampuan yang berdiri sendiri, yaitu faktor umum (general)
dan faktor khusus (specific).
''Sekalipun teori faktor tunggal dan teori dua faktor memungkinkan
penyeragaman proses pembelajaran, namun akan lebih baik jika individu
dengan IQ yang berbeda mendapatkan layanan pembelajaran yang berbeda,''
kata Candiasa.
Bahkan, lanjut Candiasa, pemberagaman pembelajaran akibat perbedaan
kecerdasan menguat setelah Thurstone mendeskripsikan kecerdasan
dan keberbakatan (aptitude) menjadi beberapa faktor kemampuan
yang dikenal dengan faktor ganda (multiple factors), yaitu
kemampuan verbal (verbal comprehension), kemampuan berhitung
(number), kemampuan geometris (spatial relation),
kelancaran kata (word fluency), ingatan (memory),
dan penalaran (reasoning).
Selanjutnya, tuntutan keberagaman pembelajaran lebih tampak lagi
pada teori kecerdasan ganda (multiple intelligence) dari
Gardner. Teori kecerdasan ganda menyatakan bahwa kecerdasan dan
keberbakatan manusia terdiri atas tujuh komponen yang semiotonom,
yaitu kecerdasan musik (musical intelligence), kecerdasasan
bodi-kinestetik (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan
logika-matematika (logical-mathematical intelligence), kecerdasan
ruang (spatial intelligence), kecerdasan interpersonal (interpersonal
intelligence), dan kecerdasan intrapersonal (intrapersonal
intelligence). Nah, agar diperoleh hasil belajar yang optimal,
kecerdasan yang berbeda harus mendapatkan layanan pembelajaran yang
berbeda pula.
Selain kecerdasan, menurut Candiasa,
gaya kognitif juga cukup kuat pengaruhnya terhadap proses pembelajaran.
Sebagaimana disebutkan oleh Witkin yang membedakan individu berdasarkan
gaya kognitifnya menjadi individu field independent dan individu
field dependent.
Individu field independent cenderung
berpikir analisis, mereorganisasi materi pembelajaran menurut kepentingan
sendiri, merumuskan sendiri tujuan pembelajaran secara internal
dan lebih mengutamakan motivasi internal. Di lain pihak, individu
field dependent cenderung berpikir global, mengikuti struktur materi
pembelajaran apa adanya, mengikuti tujuan pembelajaran yang ada
dan lebih mengutamakan motivasi eksternal.
Gejala psikologis lain yang
dapat membedakan individu dalam proses belajarnya adalah gaya berpikir.
Gaya berpikir erat kaitannya dengan fungsi belahan otak. Candiasa
mengutip Koestler dan Clark yang menyebut bahwa belahan otak kanan
lebih bersifat lateral dan divergen, sedangkan belahan otak kiri
lebih bersifat vertikal dan konvergen.
Masing-masing belahan otak bertanggung
jawab terhadap cara berpikir, dan masing-masing mempunyai spesialisasi
dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan
dan interaksi tertentu. Proses berpikir otak kiri bersifat logis,
sekuensial, linier, dan rasional, sedangkan proses berpikir otak
kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, divergen, dan holistik.
Daya adopsi individu juga berbeda dan juga berpengaruh terhadap
proses pembelajaran. Rogers, menurut Candiasa, membedakan individu
berdasarkan daya adopsinya menjadi empat kelompok, yaitu adopter,
mayoritas awal (early majority), mayoritas akhir (late
majority), dan pembelot (laggard). Individu yang masuk
kelompok adopter selalu mempelopori penerimaan inovasi.
Kelompok mayoritas awal memerima inovasi apabila sudah sekitar 30
persen individu lainnya menerima. Kelompok individu mayoritas akhir
bersedia menerima inovasi setelah 60 persen individu lainnya. Kelompok
individu pembelot adalah kelompok individu yang paling sukar menerima
inovasi. Setelah itu, berawal dari kegagalan individu cerdas dan
berbakat dalam usahanya, ditemukan variabel ketahan-malangan (adversity)
yang dapat mempengaruhi aktivitas individu, termasuk belajar.
Ketahan-malangan adalah daya tahan individu untuk menghadapi tantangan.
Di sini Candiasa mengutip Stoltz yang membedakan individu berdasarkan
ketahan-malangan yang dimiliki menjadi tiga kelompok, yaitu penjelajah
(climber), penunggu (camper), dan penyerah (quitter).
Individu penjelajah selalu ingin maju seberapa pun hambatan yang
dialami. Individu penunggu, untuk berbuat sesuatu selalu menunggu
keberhasilan individu lainnya. Individu penyerah adalah individu
yang tidak berusaha untuk maju dan cenderung menyerah sebelum berusaha.
Kemampuan awal peserta juga
harus mendapat pertimbangan dalam proses pembelajaran. Kemampuan
awal sangat dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam berinteraksi
dengan lingkungannya. Oleh karena itu, perbedaan lingkungan dapat
mengakibatkan perbedaan kemampuan awal. Perbedaan kemampuan awal
mengakibatkan perbedaan kemampuan untuk mengelaborasi informasi
baru untuk membangun struktur kognitif.
Dengan melihat perbedaan-perbedaan
itu rupanya dalam belajar juga dituntut individualisasi agar diperoleh
hasil belajar yang optimal. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana
mengakomodasi perbedaan karakteristik individu dalam pembelajaran.
Permasalahan berikutnya adalah komponen-komponen pembelajaran yang
mana saja dapat diadaptasikan dengan karakteristik individu yang
amat beragam. (ole)
http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2006/2/3/pen1hl.HTM
  
|