|

Kutipan dari : Pasca
Indonesia-Pasca Einstein, Esei-esei tentang Kebudayaan Indonesia Abad
ke-21, halaman 14-15 YB Mangunwijaya .... Dunia persekolahan tidak
mengajar anak didik untuk berpikir, untuk ekspoloratif dan kreatif. Seluruh suasana
dan gaya persekolahan adalah penghafalan tanpa pengertian yang memadai, taat kepada
komando, sedangkan bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu. Siswa
tidak didik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut -
tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang "pintar dan terampil"
dalan sirkus. Jikalaupun ia diajari sesuatu, maka sesuatu itu diajarkan tanpa
konteks sosial budayanya. Sistem pengajaran semacam itu bagus untuk kaum militer
yang memang kodratnya dipersiapkan demi dunia komando didalam keadaan perang,
tetapi fatal untuk anak didik yang justru harus bebas untuk bertanya, bahkan berani
untuk bertanya karena harus berjiwa eksploratif dalam segala situasi dan kondisi,
agar kreatif dan konstruktif nantinya. Namun, ternyata salah satu
masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa-rupanya menuju ke jurang ialah
dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan pelaku pelaku pendidik
serta pengajarnya, khususnya para guru, karena mereka hanya menjalankan politik
pendidikan dan pengajaran. Mereka bukan pengambil keputusan dan pengatur siasat
dasarnya. Khususnya lagi di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari
segala struktur persekolahan diatasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas
tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas-universitas
maupun sekolah-sekolah lanjutan atas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi
sekolah atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan! Kalau dunia sekolah dasar
rendah mutunya, maka segala-galanya yang nanti dibangun diatasnya, di perguruan
menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing-puing. Seperti atap
akan rontok apabila tiang-tiang roboh karena umpak-pondasinya lemah. JIKA DAYA
PIKIR DAN SEMANGAT EKSPLORATIF DAN KREATIF BERANTAKAN DARI AKAR-AKARNYA, MAKA
APAPUN YANG KITA PERBUAT TIDAK AKAN BERBOBOT DAN SITUASI SOSIAL BUDAYA MENJADI
SANGAT RAWAN. .... |